Selasa , 20 Oktober 2026
Home Sehat Bukan Sekadar Gaya, Smartwatch Bisa Mendeteksi Serangan Jantung
Sehat

Bukan Sekadar Gaya, Smartwatch Bisa Mendeteksi Serangan Jantung

56
Ilustrasi smartwatch

IDNEWSUPDATE.COM – Sebuah kisah nyata yang dialami oleh dr. Tirta, dokter sekaligus penggiat olahraga ketahanan (endurance), menjadi bukti nyata bagaimana teknologi jam pintar atau smartwatch tidak sekadar aksesori gaya hidup, melainkan bisa menjadi penyelamat nyawa. Kasus yang menimpa salah seorang sahabatnya yang bernama Agung Salim menunjukkan bagaimana fitur sederhana pada smartwatch mampu mendeteksi gangguan yang selama ini tidak bergejala.

Terdeteksi di Tengah Perjalanan Sepeda

Kejadian bermula saat dr. Tirta dan kelompoknya melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh dari Jakarta menuju Yogyakarta. Ketika melintasi jalur Bawen dengan intensitas yang tergolong ringan, detak jantung Agung Salim tiba-tiba melonjak drastis meski ia tidak mengeluarkan tenaga besar.

“Padahal orang itu enggak ngapa-ngapain gitu. Orang enggak ngapa-ngapain dan dia bunyi terus Garmin-nya. Garmin-nya bunyi terus menandakan sesuatu enggak normal,” ujar dr. Tirta menceritakan momen tersebut.

Kecurigaan itu diperkuat dengan pemeriksaan manual menggunakan stetoskop yang kebetulan tersedia. “Pas saya dengerin jantungnya itu beat-nya skip bit. Jadi duk duk skip, duk duk skip,” jelasnya. Temuan itu kemudian mengarah pada diagnosis gangguan irama jantung melalui pemeriksaan elektrokardiograf (EKG).

Fase Tanpa Gejala yang Berbahaya

Menurut dr. Tirta, tantangan terbesar dari gangguan irama jantung adalah sifatnya yang kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Ia menjelaskan bahwa deteksi dini biasanya membutuhkan alat holter yang dipasang selama 24 jam penuh, sesuatu yang jarang dilakukan orang tanpa keluhan.

“Mayoritas orang dengan kelainan gangguan irama jantung itu awal-awalnya enggak bergejala. Ketika sudah mengeluarkan gejala, itu artinya sudah tahap tengah atau tahap akhir,” tegasnya. Gejala lanjutan, lanjut dr. Tirta, bisa berupa sesak napas, nyeri dada hebat yang menjalar ke punggung, hingga henti jantung dan gangguan kesadaran yang berujung kematian.

Di titik inilah, kata dia, smartwatch berperan sebagai alat peringatan dini meski tidak seakurat pemeriksaan medis standar. “Smartwatch itu mungkin tidak sedetail holter, bahkan tidak sedetail EKG. Tetapi ini salah satu prediktor paling aman,” katanya, seraya menambahkan bahwa beberapa seri smartwatch kelas atas kini bahkan dilengkapi fitur EKG.

Fitur SOS dan Sikap Denial Pasien

Fenomena serupa terulang pada akhir tahun 2025, ketika detak jantung Agung kembali melonjak hingga 180 denyut per menit saat duduk santai di sebuah minimarket. Kali ini, fitur darurat pada perangkatnya bekerja secara otomatis. “Ada fitur kedua dari Garmin dan smartwatch lain, yaitu kalau kita darurat, itu bisa menelepon SOS ke orang terdekat,” ungkap dr. Tirta.

Ia menyoroti pola perilaku yang umum terjadi pada pasien dengan kelainan jantung, yakni kecenderungan mengabaikan hasil pemeriksaan karena merasa tidak ada keluhan fisik. “Rata-rata orang dengan gangguan irama jantung atau kelainan pada jantung itu pasti merasa tidak bergejala, aman. Padahal memang benar, tahap awal gangguan irama jantung itu tidak ada gejalanya,” ujarnya mengingatkan.

Bukan Sekadar Alat Olahraga

Dr. Tirta menegaskan, fungsi utama yang perlu digarisbawahi dari smartwatch bukanlah penghitung kalori atau jarak tempuh, melainkan pemantauan detak jantung secara berkelanjutan. Fitur ini juga bermanfaat dalam mendeteksi cardiac drift, yakni kenaikan detak jantung yang tidak wajar akibat tubuh belum terbiasa dengan intensitas aktivitas tertentu, indikator penting terutama bagi atlet maupun individu yang baru memulai olahraga.

Selain pemantauan saat beraktivitas, ia juga menyoroti manfaat fitur pelacakan tidur yang dapat mendeteksi indikasi sleep apnea atau henti napas saat tidur. “Dengan adanya smartwatch, itu bisa nge-track kamu terjadi sleep apnea atau enggak,” katanya.

Terkait pilihan produk, dr. Tirta menyarankan masyarakat tidak perlu memaksakan diri membeli perangkat mahal. Menurutnya, tiga fitur dasar sudah cukup untuk pemantauan kesehatan harian. “Kamu boleh beli smartband apa pun, minimal yang bisa mengukur detak jantung, langkah, dan waktu tidur, itu sudah cukup,” ujarnya.

Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan pentingnya pemeriksaan jantung sejak dini, khususnya bagi mereka yang memasuki usia di atas 30 tahun, sembari merekomendasikan konsultasi dengan dokter spesialis jantung pembuluh darah atau dokter spesialis kedokteran olahraga untuk pemantauan yang lebih komprehensif.

Berita Terkait

Menkes Ingatkan Bahaya Kesehatan Mengonsumsi Kol Goreng

IDNEWSUPDATE.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan peringatan keras kepada masyarakat...

Studi Terbaru Ungkap Dampak Tersembunyi Suplemen Vitamin D2 Bagi Tubuh

IDNEWSUPDATE.COM – Para ilmuwan dari University of Surrey mengungkapkan temuan bahwa konsumsi...

Posisi Lengan yang Salah Dapat Membuat Tekanan Darah Terbaca Lebih Tinggi

IDNEWSUPDATE.COM – Peneliti dari Johns Hopkins Medicine menemukan bahwa posisi lengan yang...

Aphrodite P3 Exfoliating Peeling Gel, Perawatan Eksfoliasi dari Korea untuk Kulit Lebih Bersih dan Cerah

IDNEWSUPDATE.COM –  Eksfoliasi merupakan salah satu tahapan perawatan wajah yang berperan penting...