Selasa , 20 Oktober 2026
Home Bisnis Dollar Tembus Rp18 Ribu, Ini Efeknya Terhadap Ekonomi Masyarakat
Bisnis

Dollar Tembus Rp18 Ribu, Ini Efeknya Terhadap Ekonomi Masyarakat

33

IDNEWSUPDATE.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan akhir September 2026. Penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh akumulasi tekanan inflasi global, kenaikan harga minyak mentah, serta meningkatnya permintaan valuta asing dari kalangan importir menjelang tutup kuartal ketiga.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan pengetatan moneter Amerika Serikat. Kondisi tersebut diperparah dengan situasi geopolitik yang memicu ketidakpastian ekonomi dunia, ujar Erwin dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Selasa (29/9/2026).

Pelemahan kurs rupiah yang menembus batas psikologis Rp18 ribu memberikan dampak langsung pada biaya operasional sektor industri nasional. Hal ini dikarenakan ketergantungan manufaktur Indonesia terhadap bahan baku impor yang mencapai lebih dari 70 persen dari total nilai impor nasional.

Efek dari kondisi ini berpotensi dirasakan masyarakat luas melalui kenaikan harga komoditas kebutuhan pokok dan barang konsumsi harian. Kenaikan biaya produksi akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir melalui penyesuaian harga jual di pasaran.

Risiko Kenaikan Biaya Hidup

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah tidak hanya memengaruhi barang impor siap pakai, tetapi juga produk domestik yang menggunakan bahan baku dari luar negeri. Barang-barang berbasis gandum, kedelai, pakan ternak, hingga komponen elektronik menjadi kategori yang paling rentan mengalami lonjakan harga akibat pelemahan mata uang ini.

Selain tekanan harga, masyarakat juga dihadapkan pada risiko kenaikan suku bunga kredit jika inflasi tidak segera terkendali. Beban cicilan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun kredit kendaraan bermotor berpotensi membengkak, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, menyebutkan bahwa meski sektor eksportir mendapat keuntungan dari penguatan dolar, pemerintah tetap perlu waspada. Rizal menekankan bahwa urgensi utama terletak pada kecepatan dan persistensi pelemahan nilai tukar, bukan sekadar angka di level Rp18 ribu.

Berita Terkait

Penjualan Mobil LCGC Turun Akibat Peralihan Konsumen ke Kendaraan Listrik

IDNEWSUPDATE.COM – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan signifikan pada...

BEI Resmi Menurunkan Batas Auto Rejection Bawah Jadi Tujuh Persen

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian batas Auto...

Kisah Yeni Dahlia Bangun Bisnis Digital & Periklanan hingga Memiliki Tim di Mancanegara

IDNEWSUPDATE.COM — Yeni Dahlia, lahir di Jakarta pada 24 April 1994, merupakan...

Bursa Efek Indonesia Hentikan Perdagangan Akibat IHSG Anjlok Signifikan

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham...