Selasa , 20 Oktober 2026
Home Bisnis Rupiah Tertekan, Ekonom Soroti Dilema BI Hadapi Suku Bunga Global dan Lonjakan Harga Minyak
BisnisHeadline

Rupiah Tertekan, Ekonom Soroti Dilema BI Hadapi Suku Bunga Global dan Lonjakan Harga Minyak

57
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah

IDNEWSUPDATE.COM — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang nasional tersebut dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi domestik, tetapi juga dipengaruhi tekanan global berupa tingginya suku bunga, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pengamat ekonomi Profesor Ferry Latuhihin dalam sebuah acara podcast yang disiarkan Selasa (22/9/2026) menilai tekanan terhadap rupiah saat ini cukup kompleks karena Bank Indonesia (BI) harus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah terbatasnya pilihan kebijakan moneter.

Menurut Ferry, tekanan eksternal terutama datang dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah AS. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar menjadi semakin menarik bagi investor global.

“Kalau dari luar jelas bahwa The Fed telah menaikkan suku bunganya, sehingga mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah Amerika yang 10 tahun itu ke atas 5%. Dan ini tentu membuat tekanan terhadap rupiah,” kata Ferry.

Tekanan berikutnya datang dari kenaikan harga minyak dunia. Menurut dia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak bertahan di level tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi sebagian kebutuhan domestik.

“Yang kedua adalah tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendongkrak harga minyak ke atas 100 dolar. Dan kita tahu bahwa kita masih importir minyak yang cukup besar,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ferry memperkirakan setiap kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban fiskal pemerintah, terutama ketika harga minyak berada jauh di atas asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran.

Di sisi lain, Ferry menilai BI menghadapi dilema ketika harus merespons pelemahan rupiah. Salah satu pilihan adalah menaikkan suku bunga untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah. Namun, kebijakan tersebut berpotensi menekan likuiditas dan aktivitas pembiayaan sektor riil.

“BI dihadapkan oleh satu dilema, antara menaikkan suku bunga karena di dunia ini suku bunga sudah naik untuk menjaga stabilitas rupiah atau tetap melakukan intervensi,” kata Ferry.

Menurut dia, kenaikan suku bunga domestik dapat berdampak terhadap imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Jika yield meningkat, harga SBN dapat mengalami tekanan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi nilai aset perbankan dan ketersediaan likuiditas untuk penyaluran kredit.

Ferry juga menyoroti keterbatasan intervensi pasar valuta asing. Menurutnya, intervensi yang dilakukan secara terus-menerus dapat menguras cadangan devisa apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam waktu panjang.

Selain faktor eksternal, Ferry melihat persoalan kepercayaan investor sebagai faktor domestik yang tidak kalah penting. Ia menilai arus modal asing dan pergerakan pasar saham mencerminkan bagaimana investor merespons perkembangan kebijakan ekonomi Indonesia.

“Internal faktor kita satu ya, krisis kita adalah krisis ketidakpercayaan,” ujar Ferry. Ia juga menyoroti arus dana asing yang menurutnya keluar dari pasar Indonesia serta pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ferry kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai impossible trinity atau trilema kebijakan ekonomi. Dalam kondisi arus modal yang bebas, stabilitas nilai tukar dan independensi kebijakan moneter tidak dapat sepenuhnya dicapai secara bersamaan.

“Dari tiga ini, free flow of capital, stable exchange rate atau fixed exchange rate dan sovereign monetary policy, hanya dua yang bisa kita pilih, tidak bisa tiga-tiganya,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah, menurut Ferry, masih berpotensi berlanjut apabila suku bunga global dan harga energi tetap tinggi. Ia bahkan memperkirakan rupiah dapat menghadapi tekanan lebih besar pada akhir tahun, meski proyeksi tersebut merupakan pandangan pribadinya dan bukan kepastian arah nilai tukar.

“Bukan mustahil akhir tahun ini akan ke atas 20.000. Bahkan ke atas 22.000 pun bukan mustahil,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada kombinasi kebijakan moneter, kondisi fiskal, arus modal asing, serta perkembangan ekonomi global. Bagi Indonesia, tantangan utamanya adalah menjaga kepercayaan pasar tanpa mengorbankan likuiditas dan pertumbuhan ekonomi domestik.

Berita Terkait

Penjualan Mobil LCGC Turun Akibat Peralihan Konsumen ke Kendaraan Listrik

IDNEWSUPDATE.COM – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan signifikan pada...

BEI Resmi Menurunkan Batas Auto Rejection Bawah Jadi Tujuh Persen

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian batas Auto...

Kisah Yeni Dahlia Bangun Bisnis Digital & Periklanan hingga Memiliki Tim di Mancanegara

IDNEWSUPDATE.COM — Yeni Dahlia, lahir di Jakarta pada 24 April 1994, merupakan...

Bursa Efek Indonesia Hentikan Perdagangan Akibat IHSG Anjlok Signifikan

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham...