Kamis , 23 Juli 2026
    Home Peristiwa Di Tengah Bencana, di Ujung Kepercayaan dalam Krisis Reputasi Kementerian Kehutanan untuk Penanganan Bencana di Sumatra
    Peristiwa

    Di Tengah Bencana, di Ujung Kepercayaan dalam Krisis Reputasi Kementerian Kehutanan untuk Penanganan Bencana di Sumatra

    13

    IDNEWSUPDATE.COM –  Bencana
    alam yang terjadi di wilayah Sumatra, seperti banjir bandang, kebakaran hutan
    dan lahan (karhutla), serta tanah longsor, kerap menimbulkan sorotan publik
    terhadap peran negara dalam upaya pencegahan dan penanganannya. 

    Kementerian
    Kehutanan (dan sektor kehutanan secara umum) sering kali menjadi pihak yang
    disorot karena memiliki kewenangan strategis dalam pengelolaan hutan,
    konservasi lingkungan, serta mitigasi bencana berbasis ekosistem. Ketika
    penanganan bencana dinilai lambat, tidak terkoordinasi, atau tidak transparan,
    kondisi tersebut berpotensi memicu krisis reputasi institusi.

    Dari
    sudut pandang manajemen reputasi, krisis ini tidak hanya menyangkut persoalan
    teknis penanganan bencana, tetapi juga menyentuh aspek persepsi, kepercayaan
    publik, dan legitimasi kelembagaan di mata para pemangku kepentingan.

    Krisis
    reputasi Kementerian Kehutanan dalam konteks penanganan bencana di Sumatra
    dapat dipahami sebagai akumulasi dari beberapa faktor. Pertama, adanya persepsi
    publik bahwa kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan
    kawasan hutan berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan skala bencana.
    Dalam kondisi ini, kementerian dipandang tidak optimal menjalankan fungsi
    preventif.

    Kedua,
    komunikasi publik yang kurang responsif pada fase awal bencana sering memicu
    spekulasi dan narasi negatif di media massa maupun media sosial. Ketidakhadiran
    penjelasan resmi yang cepat dan komprehensif membuka ruang bagi opini publik
    yang menyalahkan institusi.

    Ketiga,
    koordinasi lintas lembaga yang tidak terlihat secara jelas oleh publik juga
    memperburuk citra. Meskipun secara internal terdapat mekanisme kerja sama
    dengan BNPB, pemerintah daerah, dan instansi terkait, kurangnya eksposur
    komunikasi membuat publik menilai kementerian bekerja secara parsial dan tidak
    terintegrasi.

    Dalam
    kerangka manajemen reputasi, krisis bencana merupakan ancaman serius karena
    menyangkut kepentingan publik yang luas dan nilai kemanusiaan. Reputasi
    kementerian tidak hanya diukur dari keberhasilan program jangka panjang, tetapi
    juga dari kemampuan merespons situasi darurat secara cepat, empatik, dan
    bertanggung jawab.

    Kegagalan
    dalam mengelola komunikasi krisis berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan
    masyarakat, memperlemah dukungan politik, serta memengaruhi legitimasi
    kebijakan kehutanan ke depan. Reputasi yang tergerus juga dapat berdampak pada
    hubungan dengan mitra internasional, LSM lingkungan, dan komunitas lokal.

    Dari
    perspektif manajemen reputasi, penanganan krisis tidak cukup hanya berfokus
    pada pemulihan fisik pascabencana, tetapi harus diiringi dengan strategi
    komunikasi dan tata kelola reputasi yang terencana.

    Pertama,
    kementerian perlu mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Penyampaian
    informasi berbasis data terkait penyebab bencana, langkah penanganan, serta
    evaluasi kebijakan kehutanan harus dilakukan secara terbuka dan konsisten.

    Kedua,
    pendekatan komunikasi empatik menjadi kunci. Dalam situasi bencana, publik
    tidak hanya menuntut solusi teknis, tetapi juga kehadiran negara yang peduli
    terhadap korban. Pernyataan resmi yang menunjukkan empati dan tanggung jawab
    moral dapat meredam kemarahan publik.

    Ketiga,
    penguatan narasi jangka panjang tentang komitmen perbaikan tata kelola hutan
    perlu dibangun. Reputasi yang pulih tidak hanya berasal dari respons krisis
    sesaat, tetapi dari konsistensi kebijakan restorasi hutan, penegakan hukum
    terhadap pelanggaran, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan
    berkelanjutan.

    Media
    massa dan media digital memainkan peran strategis dalam membentuk reputasi
    kementerian. Oleh karena itu, manajemen reputasi menuntut hubungan yang
    proaktif dengan media melalui penyediaan informasi yang cepat, akurat, dan
    mudah dipahami. Selain itu, dialog dengan LSM, akademisi, dan komunitas
    terdampak penting untuk membangun kembali kepercayaan dan menunjukkan
    keterbukaan institusi.

    Pelibatan
    stakeholder ini mencerminkan bahwa kementerian tidak bekerja secara top-down,
    melainkan mengadopsi pendekatan kolaboratif dalam mitigasi dan penanganan
    bencana.

    Krisis
    reputasi Kementerian Kehutanan dalam penanganan bencana di Sumatra menunjukkan
    bahwa reputasi institusi publik sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola
    persepsi dan komunikasi di tengah situasi krisis. Dari sudut pandang manajemen
    reputasi, bencana bukan hanya ujian kapasitas teknis, tetapi juga ujian
    kredibilitas, empati, dan kepemimpinan.

    Daniel Bahari Pasaribu


    Penulis
    menilai dengan strategi komunikasi krisis yang transparan, empatik, dan
    berorientasi pada perbaikan berkelanjutan, krisis reputasi dapat dikelola
    menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan publik serta memperbaiki tata
    kelola kehutanan di masa depan.


    Penulis :  
    Daniel Bahari Pasaribu,  Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Korporat Universitas Paramadina

    Berita Terkait

    Presiden Prabowo Menunjuk Sudaryono Sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

    IDNEWSUPDATE.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, untuk...

    Sumatra Utara Berstatus Siaga Cuaca Ekstrem dan Belasan Wilayah Waspada

    IDNEWSUPDATE.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan Sumatra Utara sebagai...

    Daftar Peringatan Penting yang Dirayakan Setiap Tanggal 20 Juli

    IDNEWSUPDATE.COM – Tanggal 20 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai momen penting di...

    OJK Resmi Blokir Puluhan Ribu Rekening Terindikasi Judi Online

    IDNEWSUPDATE.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi telah melakukan pemblokiran terhadap...