IDWNEWJUPDATE – Ketua Bidang Kaderisasi BEM Pesantren Seluruh
Indonesia, Nauval Al Farisi, mengecam keras tindakan penyiraman air keras
terhadap aktivis KontraS yang diduga melibatkan oknum prajurit Tentara Nasional
Indonesia (TNI).
Menurut Nauval, peristiwa tersebut merupakan
bentuk kekerasan serius yang tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam
kebebasan sipil dan iklim demokrasi di Indonesia.
“Ini bukan sekadar tindak kriminal, melainkan
bentuk teror terhadap gerakan sipil. Kekerasan seperti ini adalah upaya
membungkam suara kritis rakyat dan tidak boleh dibiarkan,” tegas Nauval dalam
keterangan tertulisnya kepada IDNewsUpdate.com, Kamis (19/3/2026).
Ia menilai, apabila dugaan keterlibatan aparat
negara terbukti, maka hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya penyalahgunaan
kekuasaan yang mencederai amanat konstitusi.
Selain itu, ia juga meminta Tentara Nasional
Indonesia untuk tidak melindungi oknum yang terlibat serta memastikan proses
hukum berjalan secara terbuka dan akuntabel.
Nauval menegaskan bahwa negara memiliki
tanggung jawab penuh untuk melindungi aktivis dan masyarakat sipil dari segala
bentuk intimidasi maupun kekerasan.
“Negara tidak boleh kalah oleh tindakan
kekerasan. Keadilan bagi korban adalah harga mati, dan kami akan terus mengawal
kasus ini hingga tuntas,” pungkasnya..
Senada dengan hal itu, Presidium Nasional BEM
Pesantren Seluruh Indonesia Ahmad Tomi Wijaya juga menegaskan hal serupa agar
segera diusut tuntas.
“Tindakan tersebut tentu menambah daftar
hitam sejarah panjang hancurnya moral dan HAM di Indonesia. Dan jelas kami
mengutuk hal tersebut serta menyerahkan ke pihak berwajib agar pelaku dapat
dihukum seadil adilnya” ujar Tomi.
Tomi juga menambahkan bahwa BEM Pesantren juga
senantiasa memberi dukungan kepada korban kejahatan tersebut. BEM Pesantren
juga turut menyerukan agar kembaikan TNI ke barak dan tak perlu mencampuri
urusan politik atau lainnya yang tidak sesuai dengan esensi dan tupoksi nya.













