Selasa , 20 Oktober 2026
Home Bisnis Harga Minyak Melonjak Imbas Ketegangan AS-Iran dan Pembahasan Damai
Bisnis

Harga Minyak Melonjak Imbas Ketegangan AS-Iran dan Pembahasan Damai

140



IDNEWSUPDATE.COM –  Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan pada Selasa pagi di Asia, didorong oleh ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen pasar yang waspada diperparah oleh kabar pembahasan proposal damai yang diajukan oleh Iran, yang melibatkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade oleh Washington.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,66 persen menjadi US$97,03 per barel, sementara minyak acuan global, Brent crude, menguat 0,44 persen mencapai US$108,67 per barel. Kenaikan ini diperkirakan akan berdampak pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, menembus angka Rp1,8 juta per barel untuk Brent.

Prospek Pasar Energi dan Dampak Jangka Panjang

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah membahas proposal damai dari Iran dengan tim keamanan nasionalnya. Proposal tersebut mencakup syarat bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade dan pengakhiran permusuhan oleh Washington. Namun, Trump sebelumnya menegaskan bahwa pencabutan sanksi hanya akan dilakukan setelah kesepakatan tercapai sepenuhnya, menyisakan ketidakjelasan arah negosiasi.

Gangguan pasokan minyak global juga masih menjadi perhatian utama. Jalur strategis Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia, dilaporkan mengalami disrupsi signifikan. Analis energi memperkirakan pemulihan pasar tidak akan terjadi dalam waktu singkat meskipun konflik mereda. Diperlukan waktu berbulan-bulan untuk membersihkan ranjau, mengatasi kemacetan tanker, serta memulihkan produksi dan pengolahan minyak.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, memproyeksikan pasar minyak global membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan untuk kembali stabil. Selama periode ini, harga minyak berpotensi tetap tinggi seiring dengan menipisnya cadangan. 

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama karena persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis,” ujar Lipow. Ia menambahkan bahwa jika konflik berakhir segera, harga minyak mentah diperkirakan dapat turun sekitar US$10 per barel. Namun, tanpa adanya negosiasi baru, harga minyak mentah WTI diprediksi akan kembali ke level US$100 dan Brent melampaui US$110.

Sumber : Viva

Berita Terkait

Penjualan Mobil LCGC Turun Akibat Peralihan Konsumen ke Kendaraan Listrik

IDNEWSUPDATE.COM – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan signifikan pada...

BEI Resmi Menurunkan Batas Auto Rejection Bawah Jadi Tujuh Persen

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian batas Auto...

Kisah Yeni Dahlia Bangun Bisnis Digital & Periklanan hingga Memiliki Tim di Mancanegara

IDNEWSUPDATE.COM — Yeni Dahlia, lahir di Jakarta pada 24 April 1994, merupakan...

Bursa Efek Indonesia Hentikan Perdagangan Akibat IHSG Anjlok Signifikan

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham...