Rabu , 22 Juli 2026
    Home Bisnis Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 terhadap Dollar AS, Pengusaha Angkat Bicara
    Bisnis

    Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 terhadap Dollar AS, Pengusaha Angkat Bicara

    5


    IDNEWSUPDATE.COM –  Nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17.000 terhadap dolar Amerika Serikat, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha yang menilai kondisi ini sebagai sinyal kewaspadaan. Pelemahahan rupiah ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menurunkan daya beli masyarakat.

    Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia per Rabu, 1 April 2026, kurs referensi rupiah berada di Rp17.002 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah telah bergerak di kisaran Rp16.900 sejak awal Maret 2026, bahkan sempat menyentuh Rp16.990 pada pertengahan Maret dan Rp16.999 di akhir Maret 2026.

    Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menyatakan bahwa pelemahan rupiah ini perlu menjadi perhatian serius bagi dunia usaha.

    “Terkait kurs dolar yang menembus Rp17.000 per dolar AS, dunia usaha tentu melihat ini sebagai sinyal kewaspadaan. Memang benar ada dua sisi. Untuk eksportir, pelemahan rupiah bisa memberi keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global dan penerimaan devisa meningkat,” kata Anggawira seperti dilansir CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026).

    Dampak Ekonomi dan Antisipasi Pengusaha

    “Namun bagi mayoritas pelaku usaha, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, komponen, hingga utang dalam dolar, kondisi ini cukup berat,” sambungnya. Anggawira menilai, dampak paling terasa adalah lonjakan biaya produksi di berbagai sektor industri. Industri manufaktur, otomotif, elektronik, farmasi, makanan minuman, tekstil, logistik, hingga energi diprediksi akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan operasional.

    Pelaku usaha yang memiliki pinjaman dalam dolar atau kewajiban pembayaran impor juga akan menghadapi tekanan arus kas yang lebih besar. Jika kondisi ini berlanjut, Anggawira mengingatkan dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen.

    “Yang dikhawatirkan, jika dolar terus naik dan bertahan lama di atas Rp17.000 (per dolar AS), maka dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen. Barang impor akan lebih mahal, harga pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai bisa naik, begitu juga elektronik, otomotif, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Ini bisa menekan daya beli masyarakat dan akhirnya mempengaruhi penjualan dunia usaha juga,” kata Anggawira.

    Anggawira menegaskan bahwa dunia usaha tidak hanya melihat kondisi ini dari sisi keuntungan eksportir semata, melainkan lebih pada pentingnya stabilitas nilai tukar. “Karena itu, bagi pengusaha situasi ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi eksportir untung atau importir rugi. Yang paling penting adalah menjaga agar volatilitas tidak terlalu liar. Dunia usaha lebih membutuhkan kurs yang stabil daripada kurs yang terlalu berfluktuasi,” tegasnya.

    Untuk merespons kondisi ini, pelaku usaha mulai melakukan berbagai langkah penyesuaian, seperti efisiensi dan penguatan penggunaan bahan baku lokal. “Melakukan lindung nilai atau hedging untuk transaksi impor, serta mengurangi ketergantungan terhadap komponen luar negeri. Ini momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat industri domestik,” jelasnya.

    Di sisi lain, Anggawira juga mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi kebijakan yang kuat. “Di sisi pemerintah, penting menjaga koordinasi fiskal dan moneter, memperkuat cadangan devisa, mempercepat repatriasi devisa hasil ekspor, serta menjaga kepercayaan pasar agar rupiah tidak tertekan terlalu dalam. Karena kalau kurs terus melemah, bukan hanya importir yang tertekan, tapi juga inflasi, daya beli, dan iklim investasi secara keseluruhan akan ikut terdampak,” katanya.

    Anggawira menyebut pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS dipengaruhi berbagai faktor global, seperti sentimen geopolitik, arus modal keluar, tingginya permintaan dolar untuk impor dan pembayaran utang, serta kebijakan suku bunga AS yang masih tinggi.

    Sumber : CNBC Indonesia 

    Berita Terkait

    Indonesia Memiliki Potensi Besar Menjadi Destinasi Gastronomi Dunia

    IDNEWSUPDATE.COM – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi...

    Harga Emas Antam Hari Ini Mengalami Koreksi di Awal Pekan

    IDNEWSUPDATE.COM – Harga emas batangan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam)...

    Layanan Kelas Eksekutif PT KAI Catat 7,58 Juta Penumpang Selama Semester Pertama 2026

    IDNEWSUPDATE.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat jumlah pelanggan yang menggunakan...

    OJK Resmi Blokir Puluhan Ribu Rekening Terindikasi Judi Online

    IDNEWSUPDATE.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi telah melakukan pemblokiran terhadap...