IDNEWSUPDATE.COM – Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, memprediksi kinerja perekonomian nasional akan mengalami peningkatan pada kuartal III 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Optimisme ini didorong oleh percepatan realisasi belanja pemerintah yang dijadwalkan akan dioptimalkan pada semester kedua tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 diperkirakan mengalami perlambatan pasca berakhirnya berbagai faktor musiman di kuartal I, seperti momentum Lebaran dan pembayaran tunjangan hari raya. Selain itu, adanya masa transisi dalam pelaksanaan program prioritas pemerintah turut memengaruhi laju fiskal pada periode tersebut.
Kendati demikian, Irman Faiz menegaskan bahwa ruang untuk pemulihan ekonomi masih terbuka lebar pada semester II 2026. Hal ini didukung oleh besarnya sisa pagu belanja pemerintah yang belum terealisasi dan diharapkan dapat menjadi stimulus utama bagi sektor konsumsi serta investasi.
“Di kuartal ketiga kami cukup optimistis pertumbuhan ekonomi lebih baik daripada kuartal kedua,” ujar Faiz dalam kegiatan Media Luncheon di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Potensi Stimulus Belanja Pemerintah
Dampak dari percepatan belanja pemerintah diproyeksikan tidak hanya menyasar pada komponen konsumsi pemerintah saja, tetapi juga memberikan efek rambatan positif terhadap konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal I 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,61 persen, dengan konsumsi pemerintah tumbuh signifikan mencapai 21,81 persen.
Data Kementerian Keuangan per 7 Juli 2026 mencatat realisasi belanja pemerintah pusat baru mencapai 41,2 persen dari target tahunan. Kondisi ini memberikan ruang fiskal yang cukup besar untuk memacu pertumbuhan pada enam bulan terakhir tahun 2026. Meski begitu, pengelolaan fiskal harus tetap dilakukan secara terukur guna menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah sendiri telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026. Langkah ini mencakup berbagai insentif, mulai dari bantuan pangan, program pelatihan vokasi, hingga dukungan stabilisasi harga guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Pemerintah perlu memastikan koleksi pajak dan penerimaan negara sesuai dengan target baru sehingga belanja untuk mendorong pertumbuhan pada semester kedua tetap dapat dilancarkan,” tegas Faiz pada Selasa (14/7/2026).













