Selasa , 20 Oktober 2026
Home Pendidikan Guru SD dari Banjarbaru Kalimantan Selatan Belajar ke China, Bawa Pulang Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia
Pendidikan

Guru SD dari Banjarbaru Kalimantan Selatan Belajar ke China, Bawa Pulang Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

159
Syahda Ayu Nurmaya

IDNEWSUPDATE.COM –  Kesempatan belajar ke luar negeri tidak selalu berawal dari kampus ternama atau institusi besar. Bagi Syahda Ayu Nurmaya, seorang guru sekolah dasar (SD) di SD Negeri 5 Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kesempatan tersebut lahir dari keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk terus belajar.

Ayu, sapaan akrabnya, berhasil lolos sebagai salah satu delegasi Indonesia dalam program Seminar on School Principals/Teachers for ASEAN Countries yang diselenggarakan Yunnan Normal University di Kunming, China. Program pelatihan tersebut berlangsung selama dua pekan pada 13-27 Oktober 2025 dan diikuti 11 delegasi dari Indonesia bersama peserta dari sejumlah negara ASEAN.

Perjalanan Ayu menuju China bermula ketika ia menemukan informasi mengenai peluang beasiswa melalui akun Instagram Kerja Sama Teknik Luar Negeri (KTLN) Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).

Menurut Ayu, peluang seperti itu sebenarnya cukup terbuka, termasuk bagi guru. Namun, informasi mengenai kesempatan pengembangan diri ke luar negeri belum banyak diketahui oleh kalangan pendidik.

“Kesempatan belajar di luar negeri bagi saya berawal dari keinginan untuk terus belajar dan mencari pengalaman baru sebagai seorang guru. Menjadi guru tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman mengajar di kelas,” ujar Ayu.

Untuk mengikuti seleksi, Ayu harus melalui proses administrasi yang cukup panjang. Ia membuat akun di laman KTLN, melengkapi profil dan biodata, mengunggah ijazah serta sertifikat kemampuan bahasa Inggris, kemudian mengikuti pendaftaran sesuai tema pelatihan.

Persyaratan lainnya mencakup formulir aplikasi, surat keterangan sehat berbahasa Inggris, CV dalam bahasa Inggris, sertifikat TOEFL ITP minimal skor 450 atau IELTS minimal 5.0, serta surat rekomendasi dari unit kerja terkait.

Setelah dinyatakan lolos dan memperoleh Letter of Acceptance (LoA), perjuangan belum berhenti. Ayu harus menyelesaikan proses perizinan secara berjenjang mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan, pemerintah daerah dan provinsi hingga focal point pemerintah daerah yaitu melalui Fasilitasi Kerjasama Kementerian Dalam Negeri. Koordinasi juga dilakukan dengan KTLN hingga akhirnya berbagai dokumen keberangkatan, termasuk exit permit dan paspor dinas, dapat diterbitkan.

Pada 13 Oktober 2025, Ayu akhirnya berangkat bersama 10 delegasi Indonesia lainnya yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bali, Aceh, Batam, Demak, Banyumas, Pontianak hingga Sulawesi Tengah.

Selama mengikuti program di China, Ayu tidak hanya mendapatkan materi di ruang kelas. Ia berkesempatan mengunjungi sejumlah institusi pendidikan, termasuk sekolah-sekolah di Kunming, Yunnan Normal University dan Shandong University.

Dari kunjungan tersebut, ia mempelajari berbagai aspek pendidikan, mulai dari manajemen mutu, pendidikan inklusif, pengembangan sekolah hingga pemanfaatan teknologi.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Ayu adalah melihat secara langsung penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran serta konsep smart classroom dan smart campus. Ia juga berkunjung ke Inspur Group untuk melihat perkembangan cloud computing, big data dan teknologi digital.

“Saya belajar bahwa guru perlu terus terbuka terhadap teknologi, budaya, dan praktik pendidikan dari berbagai tempat, kemudian memilih dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa dan sekolah di Indonesia,” katanya.

Pengalaman internasional tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Bagi Ayu, belajar ke luar negeri bukan berarti meninggalkan Indonesia, melainkan membawa pulang pengetahuan yang dapat diterapkan dan dibagikan kepada siswa maupun rekan sesama guru.

Jejak Ayu menunjukkan bahwa kesempatan internasional dapat diraih melalui rekam jejak yang dibangun secara konsisten. Sebelum berangkat ke China, ia telah mengikuti berbagai program pengembangan profesional, termasuk short course di Australia pada 2024, beasiswa ITEC Pemerintah India pada 2019, serta LPDP Microcredential bidang Literasi dari Teachers College Columbia University pada 2023. Ia juga meraih berbagai penghargaan di bidang inovasi pembelajaran dan teknologi pendidikan.

Namun, bagi Ayu, pencapaian tersebut bukan sekadar daftar penghargaan. “Saya tidak ingin pengalaman tersebut berhenti sebagai sertifikat. Saya berusaha meneruskannya melalui kegiatan di sekolah, seperti pengembangan English Club siswa, komunitas bahasa Inggris bagi guru, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dan berbagi praktik baik dengan rekan guru,” tuturnya.

Ayu pun menyampaikan pesan bagi guru lain yang ingin mengikuti jejaknya. Menurut dia, kunci utama bukan merasa paling hebat, tetapi konsisten membangun kompetensi, memperkuat portofolio, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan berani mencoba.

“Jangan menunggu merasa hebat untuk mulai mencoba. Saya juga pernah mengalami kegagalan ketika mencoba berbagai kesempatan pengembangan diri. Tetapi dari situ saya belajar bahwa kegagalan bukan berarti kita tidak layak mendapatkan kesempatan,” paparnya.

Berita Terkait

KKN Tematik 250 UNS Gandeng Polsek Gatak dan SMP Negeri 2 Gatak Gelar Sosialisasi Anti-Bullying bagi Siswa Baru

IDNEWSUPDATE.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 250 Universitas Sebelas Maret di...

Kemenpar Genjot Sektor Wisata Edukasi Melalui Enam Desa Wisata Unggulan

IDNEWSUPDATE.COM – Kementerian Pariwisata secara resmi memperkenalkan enam desa wisata terpilih sebagai...

Panduan Mengenal Perbedaan Mendasar Antara Game Roblox dan Minecraft Bagi Orang Tua

IDNEWSUPDATE.COM – Banyak orang tua sering menganggap Roblox dan Minecraft sebagai permainan...

Kalahkan 1.300 Peserta dari 9 Negara, Rajendra Pangarep Raih Prestasi Ganda di Malaysia

IDNEWSUPDATE.COM –  Prestasi membanggakan kembali diukir oleh talenta muda Indonesia di panggung...