Selasa , 20 Oktober 2026
Home Pendidikan Digitalisasi Wastra Minangkabau: Yuli Yanti Sulap Tradisi Kain Pangkek Duo Jadi Mahakarya Fashion 3D di ISI Padang Panjang
Pendidikan

Digitalisasi Wastra Minangkabau: Yuli Yanti Sulap Tradisi Kain Pangkek Duo Jadi Mahakarya Fashion 3D di ISI Padang Panjang

102
ISI Padang Panjang

IDNEWSUPDATE.COM –  Sebuah terobosan bersejarah yang memadukan kekayaan tradisi dan teknologi masa depan sukses digelar oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Tepat pada Selasa, 7 Juli 2026, pukul 10.00 WIB, Gedung Galeri Pertunjukan Hoerijah Adam menjadi saksi bisu perhelatan pameran tugas akhir bertajuk “Inovasi Digital Dalam Industri Fashion”. Bintang utama dalam acara ini adalah Yuli Yanti, desainer muda berbakat yang juga mahasiswi Program Magister Terapan Pascasarjana, Program Studi Penciptaan Seni di kampus tersebut.

Membuka acara secara resmi, Dr. Rasmida, S.Sn., M.Sn., selaku Direktur Pascasarjana ISI Padang Panjang, melontarkan pujian atas visi sosial dari karya yang dipamerkan. Menurutnya, inovasi Yuli Yanti tidak hanya mandek sebagai pajangan estetis, melainkan memiliki dampak nyata yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat.

“Menjadikan pondok pesantren di Nagari Canduang Koto Laweh sebagai target pengguna adalah strategi yang sangat brilian. Ini menjadi bukti nyata bahwa karya seni terapan mahasiswa pascasarjana kita mampu terjun langsung menyapa publik, menawarkan solusi visual, dan membawa nilai fungsional yang sangat relevan untuk kebutuhan masyarakat,” tegas Dr. Rasmida.

Secara konseptual, mahakarya ini lahir dari kegelisahan terhadap pudarnya pemahaman generasi muda akan warisan budaya Nagari Canduang Koto Laweh, khususnya Baju Kuruang Pangkek Duo. Sebelumnya, nilai sakral aturan adat membatasi penggunaan busana ini secara eksklusif hanya untuk perempuan yang telah berumah tangga. Akibatnya, ada jarak yang memisahkan generasi muda dari filosofi pakaian adat mereka sendiri.

Untuk menjembatani jurang tersebut, Yuli Yanti menginisiasi sebuah solusi kreatif dengan mengadaptasi motif filosofis Kain Pangkek Duo ke dalam rancangan seragam sekolah harian bagi para santri di Pondok Pesantren MUS Canduang. Melalui sentuhan pada busana pendidikan ini, proses transfer nilai dan edukasi filosofi adat lokal dapat mengalir secara natural kepada generasi penerus.

Lebih jauh, nilai jual utama dari karya ini terletak pada revolusi proses pra-produksi hingga presentasi karyanya. Seluruh rancangan seragam dieksekusi menggunakan perangkat lunak fashion tiga dimensi, CLO3D. Strategi pemanfaatan teknologi ini memberikan ruang bagi desainer untuk memvisualisasikan busana secara virtual tanpa perlu memotong kain secara nyata. Langkah ini terbukti sangat krusial dalam menekan risiko kesalahan pola sekaligus mencegah pemborosan material pasca produksi.

Pameran ini juga mendobrak batas-batas peragaan busana konvensional. Alih-alih hanya memajang pakaian jadi, pengunjung diajak menyelami langsung dapur kreativitas sang desainer. Rangkaian pameran menyajikan evolusi karya secara utuh, mulai dari goresan sketsa 2D, pemaparan pola digital, hingga simulasi proses penjahitan secara virtual (virtual sewing).

Kurator pameran, Ahmad Solihin S.Sn., M.Sn., menyebut perhelatan ini sebagai lompatan peradaban bagi institusi pendidikan seni. “Ini merupakan terobosan progresif di ISI Padang Panjang. Desain mode kini tak melulu soal fashion show konvensional di atas catwalk. Jika di Eropa digitalisasi fashion sudah menjadi tren utama, hari ini Yuli Yanti membuktikan kapasitasnya. Ia sukses menerjemahkan luhurnya tradisi lokal ke dalam bahasa teknologi modern melalui inovasi karyanya,” papar Ahmad.

Tentu saja, kematangan karya ini tidak lepas dari tangan dingin Dr. Novina Yeni Fatrina, S.Sn., M.Sn., sebagai pembimbing karya. Melalui pendampingan beliau, Yuli Yanti sukses menakar komposisi yang pas, memastikan bahwa roh dan filosofi adat Salingka Nagari tidak luntur, meski wujudnya telah berevolusi menjadi busana harian berteknologi mutakhir.

Hadirnya karya inovatif ini tidak hanya diproyeksikan sebagai media pelestarian budaya melalui seragam sekolah, tetapi juga digadang-gadang mampu menjadi katalisator bagi para desainer milenial untuk semakin berani bereksplorasi dengan teknologi digital di industri mode masa depan.

Berita Terkait

KKN Tematik 250 UNS Gandeng Polsek Gatak dan SMP Negeri 2 Gatak Gelar Sosialisasi Anti-Bullying bagi Siswa Baru

IDNEWSUPDATE.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 250 Universitas Sebelas Maret di...

Guru SD dari Banjarbaru Kalimantan Selatan Belajar ke China, Bawa Pulang Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

IDNEWSUPDATE.COM –  Kesempatan belajar ke luar negeri tidak selalu berawal dari kampus...

Kemenpar Genjot Sektor Wisata Edukasi Melalui Enam Desa Wisata Unggulan

IDNEWSUPDATE.COM – Kementerian Pariwisata secara resmi memperkenalkan enam desa wisata terpilih sebagai...

Panduan Mengenal Perbedaan Mendasar Antara Game Roblox dan Minecraft Bagi Orang Tua

IDNEWSUPDATE.COM – Banyak orang tua sering menganggap Roblox dan Minecraft sebagai permainan...