Selasa , 20 Oktober 2026
Home Bisnis Rupiah Melemah ke Level Rp 17.876 Akibat Sentimen Bursa Komoditas dan Suku Bunga
Bisnis

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.876 Akibat Sentimen Bursa Komoditas dan Suku Bunga

42

IDNEWSUPDATE.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terkoreksi hingga mencapai Rp 17.876 pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap kebijakan baru bursa komoditas nasional serta potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Berdasarkan data pasar spot pada pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda tercatat melemah 29 poin atau sekitar 0,16 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 17.847. Tren negatif ini melanjutkan pelemahan yang juga terjadi pada data Jisdor BI sehari sebelumnya, di mana rupiah bertengger di angka Rp 17.813 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik dipengaruhi oleh kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan segera mengambil alih pengaturan bursa komoditas dari Bappebti per 1 Januari 2027. OJK kini tengah mematangkan aspek infrastruktur, integritas pasar, hingga stabilitas keuangan yang menjadi pondasi utama dalam regulasi baru tersebut.

Selain faktor domestik, pelaku pasar saat ini sangat mencermati dinamika global terkait inflasi dan kebijakan bank sentral dunia. Sinyalemen kenaikan suku bunga acuan menjadi perhatian khusus bagi investor yang memantau langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter nasional.

Proyeksi Kebijakan Suku Bunga

Menanggapi situasi ekonomi terkini, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pasar sedang menunggu kepastian arah kebijakan moneter yang akan diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang. Mengingat kondisi inflasi global yang masih tinggi, terdapat spekulasi kuat mengenai penyesuaian suku bunga acuan.

“Melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan gubernur BI dalam rapat dewan gubernur di hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps,” ujar Ibrahim saat memberikan analisisnya pada Selasa, 22 September 2026.

Selain kebijakan moneter, kesehatan fiskal negara melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 turut menjadi sorotan. Meskipun defisit anggaran diproyeksikan berada di angka 2,40 persen terhadap PDB, para ahli menekankan bahwa kualitas belanja dan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal tetap menjadi variabel krusial yang menentukan stabilitas rupiah ke depan.

Berita Terkait

Penjualan Mobil LCGC Turun Akibat Peralihan Konsumen ke Kendaraan Listrik

IDNEWSUPDATE.COM – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan signifikan pada...

BEI Resmi Menurunkan Batas Auto Rejection Bawah Jadi Tujuh Persen

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian batas Auto...

Kisah Yeni Dahlia Bangun Bisnis Digital & Periklanan hingga Memiliki Tim di Mancanegara

IDNEWSUPDATE.COM — Yeni Dahlia, lahir di Jakarta pada 24 April 1994, merupakan...

Bursa Efek Indonesia Hentikan Perdagangan Akibat IHSG Anjlok Signifikan

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham...