Selasa , 20 Oktober 2026
Home Bisnis Dari Bisnis Keluarga yang Nyaris Bangkrut, Trendy Springbed Bangkit Lewat Strategi Digital
BisnisHeadline

Dari Bisnis Keluarga yang Nyaris Bangkrut, Trendy Springbed Bangkit Lewat Strategi Digital

49

IDNEWSUPDATE.COM –  Perubahan perilaku konsumen dan berkembangnya marketplace membuat pelaku industri kasur dan perlengkapan kamar tidur harus beradaptasi dengan pola distribusi baru. Kondisi tersebut juga dialami Trendy Springbed, bisnis keluarga yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun dan sempat menghadapi masa sulit sebelum menemukan momentum pertumbuhan melalui kanal digital.

Leonardo, Business Development Trendy Springbed, mengatakan perjalanan perusahaan tidak selalu berjalan mulus. Bisnis yang sebelumnya dibangun oleh generasi orang tuanya sempat mengalami perpecahan aset pada 2016. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus kembali membangun bisnis dari keterbatasan.

“Perusahaannya pecah. Dulu asetnya banyak, pabrik dan lain-lain itu dibagi-bagi. Itu 2016 dan kondisinya waktu itu uangnya enggak sebanyak itu juga, minus, penjualan enggak ada. Terus akhirnya mesin seadanya, mesin kuno-kuno,” kata Leonardo dalam sebuah wawancara.

Dalam kondisi tersebut, tiga bersaudara kemudian mengambil peran untuk membenahi perusahaan. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, mereka berupaya memperbaiki sistem manajemen sekaligus mempertahankan kegiatan produksi. Leonardo menyebut perusahaan saat itu harus bekerja dari kondisi yang serba terbatas.

“Kita start itu anak-anak tiga, enggak ngerti apa-apa disuruh masuk karena pecah. Bayangin yang satu DKV, yang satu accounting. Saya masih lumayan teknik industri, masih ngerti-ngerti dikit. Di situ diperbaiki sama Papa, semua kerja dari minus,” ujarnya.

Ekspor Perdana

Titik balik mulai terlihat ketika perusahaan memperoleh proyek pemerintah pada 2018. Setahun kemudian, Trendy Springbed untuk pertama kalinya melakukan ekspor. Namun, pandemi Covid-19 kembali menguji keberlangsungan usaha karena sejumlah pesanan dan proyek harus ditunda selama berbulan-bulan.

“Kita pertama kali ekspor dari zaman Papah itu pertama kali ekspor tuh Maret 2019. COVID datang, ini mau bangkrut lagi. Tujuh bulan enggak ada order, PO dipending semua, project dipending semua, enggak ada distribusi,” tutur Leonardo.

Di tengah tekanan tersebut, perusahaan kemudian menemukan peluang baru dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Ketika proyek-proyek mulai sepi dan persediaan produk menumpuk, Trendy Springbed mencoba menjual produk melalui marketplace.

“Juallah di Shopee. Bulan November kita jual di Shopee. Akun pribadi Shopee-nya dijadikan seller. Terus habis itu jual di Shopee. Tebak nih bulan pertama dapat berapa? Rp8 juta. Enggak tahu e-commerce itu apa,” katanya.

Pemasaran Digital

Hasil awal tersebut kemudian mendorong perusahaan untuk lebih serius mengembangkan pemasaran digital. Leonardo mengungkapkan, setelah mulai menggunakan iklan, penjualan berkembang pesat. Bahkan, dalam waktu kurang dari setahun, omzet bulanan perusahaan disebut telah mencapai miliaran rupiah.

Menurut Leonardo, keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena menjual kasur melalui marketplace. Faktor terpenting justru terletak pada pemahaman terhadap model bisnis, termasuk margin, biaya iklan, biaya operasional, biaya platform, hingga strategi scale-up.

“Yang kita pelajarin adalah bisnis model. Dari semua ini kuncinya adalah bisnis model. Kita mau enggak jualan kasur pun sekarang, mau jual barang lain pun aku sudah tahu cara jualannya karena kita sudah pelajari bisnis modelnya,” ujarnya.

Ia menilai perubahan marketplace pada dasarnya tidak menghilangkan konsep distribusi yang telah dikenal dalam bisnis konvensional. Perbedaannya terletak pada jalur distribusi dan pemanfaatan teknologi.

“Bisnis model sekarang itu jalur distribusinya sudah berbeda. Dulu pabrik itu supply ke distributor. Sekarang pun sebenarnya enggak berbeda. Marketplace juga ada jalur distribusinya,” kata Leonardo.

Bagi Trendy Springbed, marketplace juga membantu perusahaan mengatasi tantangan distribusi produk berukuran besar seperti kasur. Pemanfaatan layanan cargo memungkinkan pengiriman dilakukan melalui jaringan distribusi yang lebih efisien dibandingkan jika perusahaan harus mengirimkan sendiri setiap produk ke berbagai wilayah.

Selain distribusi, Leonardo menekankan pentingnya menghitung margin secara tepat sebelum meningkatkan penjualan. Menurut dia, besarnya omzet tidak otomatis menunjukkan kesehatan bisnis apabila biaya iklan, operasional, dan potongan platform tidak diperhitungkan.

“Ketika kalian tahu profit marginnya, kalian tahu harus alokasikan biaya iklan berapa. Karena tiap bisnis ini enggak sama,” katanya.

Perluas Lini Produk

Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar perusahaan untuk memperluas lini produknya. Trendy Springbed kini tidak hanya memproduksi kasur dewasa, tetapi juga kasur bayi, kasur pegas, kasur busa, kasur hewan, mattress topper, divan, headboard, hingga berbagai kebutuhan kamar tidur lainnya.

Leonardo mengatakan perusahaan ke depan ingin menjangkau pasar yang lebih luas dengan mengembangkan produk di luar kategori kasur.

“Next dari kita adalah menjamah lebih banyak lagi market. Jadi yang dulunya cuma produksi kasur, sekarang kita produksi kasur hewan, kasur bayi, bantal guling, dan lain-lain. Kita mau merambah ke barang-barang lainnya,” ujarnya.

Perjalanan Trendy Springbed menunjukkan bahwa keberlangsungan bisnis keluarga tidak hanya bergantung pada aset dan pengalaman yang diwariskan generasi sebelumnya. Kemampuan membaca perubahan distribusi, memahami model bisnis, mengelola margin, serta memanfaatkan kanal digital menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan pasar.

Dari perusahaan yang pernah membangun kembali bisnis dari kondisi minus, Trendy Springbed kini menjadikan pengalaman menghadapi krisis sebagai dasar untuk memperluas pasar dan mengembangkan model bisnis yang lebih adaptif.

Berita Terkait

Penjualan Mobil LCGC Turun Akibat Peralihan Konsumen ke Kendaraan Listrik

IDNEWSUPDATE.COM – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan signifikan pada...

BEI Resmi Menurunkan Batas Auto Rejection Bawah Jadi Tujuh Persen

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian batas Auto...

Kisah Yeni Dahlia Bangun Bisnis Digital & Periklanan hingga Memiliki Tim di Mancanegara

IDNEWSUPDATE.COM — Yeni Dahlia, lahir di Jakarta pada 24 April 1994, merupakan...

Bursa Efek Indonesia Hentikan Perdagangan Akibat IHSG Anjlok Signifikan

IDNEWSUPDATE.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham...