IDNEWSUPDATE.COM – Bagaimana jika mahasiswa keperawatan dapat berlatih menghadapi situasi kegawatdaruratan tanpa harus menunggu berada di ruang praktik? Teknologi Virtual Reality (VR) kini membuka peluang tersebut melalui Virtual Reality Simulation Training (VRST), sebuah inovasi pembelajaran yang membawa mahasiswa masuk ke dalam lingkungan simulasi klinis secara virtual.
Inovasi ini dikembangkan oleh Nyayu Nina Putri Calisanie, S.Kep., Ners., M.Kep., Ph.D., dari Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan PPNI Jawa Barat, dengan memanfaatkan teknologi SimLab Soft dan perangkat Meta Quest 2.
VRST dirancang untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif dan imersif. Dalam modul tersebut, mahasiswa dapat mempelajari dan mempraktikkan berbagai keterampilan kegawatdaruratan, mulai dari asesmen awal, triase, evakuasi, transportasi hingga Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) yang mencakup airway, breathing, dan circulation.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya membuat mahasiswa memahami teori, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk masuk ke dalam sebuah situasi klinis secara virtual, berinteraksi dengan skenario, dan berlatih mengambil tindakan secara lebih nyata,” ungkap Nyayu Nina Putri Calisanie dalam keterangan kepada IDNewsUpdate.com, Rabu (23/9/2026)
Belajar Keperawatan dengan Pengalaman yang Lebih Nyata
Berbeda dengan pembelajaran yang hanya mengandalkan teks, gambar, atau video, VRST membawa mahasiswa ke dalam lingkungan virtual yang dirancang interaktif dan realistis.
Dalam pengembangannya, SimLab Soft digunakan untuk membangun lingkungan virtual dan mendukung pembuatan modul yang imersif serta interaktif. Modul tersebut kemudian ditampilkan menggunakan SimLab Soft Viewer agar peserta dapat berinteraksi dengan lingkungan pelatihan virtual secara lebih lancar.
Sementara itu, Meta Quest 2 digunakan sebagai perangkat Virtual Reality untuk menghadirkan pengalaman visual dan interaksi secara langsung. Perangkat tersebut memiliki resolusi 1.832 × 1.920 piksel per mata, pelacakan inside-out dengan 6 degrees of freedom (6DOF), serta konektivitas USB-C, Bluetooth 5, dan Wi-Fi 6.
“Teknologi bukan untuk menggantikan proses pembelajaran maupun peran dosen. Justru teknologi kami manfaatkan sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sehingga mereka dapat berlatih dalam lingkungan yang aman, interaktif, dan terstruktur,” jelas Nyayu Nina Putri Calisanie.
Mendorong Pendidikan Keperawatan di Era Digital
Melalui VRST, pembelajaran keterampilan keperawatan diarahkan untuk tidak berhenti pada penguasaan konsep. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengalami simulasi, mengeksplorasi lingkungan virtual, memahami tahapan tindakan, serta berlatih menghadapi skenario kegawatdaruratan.
Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi teknologi dalam pendidikan keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan PPNI Jawa Barat untuk membawa pembelajaran keperawatan selangkah lebih dekat dengan pengalaman praktik yang imersif.
