Rabu , 22 Juli 2026
    Home Pendidikan Permasalahan dan Penguatan Manajemen Sistem Agribisnis Peternakan Kambing (Hod Farm)
    Pendidikan

    Permasalahan dan Penguatan Manajemen Sistem Agribisnis Peternakan Kambing (Hod Farm)

    17


    Oleh :  Imro Atus Solikhah

    Magister Agribisnis Universitas Jenderal Soedirman

    IDNEWSUPDATE.COM –  Peternakan kambing merupakan salah
    satu subsektor agribisnis yang memiliki daya tahan tinggi di tengah dinamika
    ekonomi pedesaan. Permintaan pasar yang relatif stabil, terutama untuk
    kebutuhan konsumsi harian, aqiqah, dan kurban, menjadikan usaha ini memiliki
    prospek jangka panjang. 

    Di Desa Tambaksari, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten
    Cilacap, peternakan kambing dan domba telah lama berkembang sebagai usaha
    rakyat. Salah satu unit usaha yang menunjukkan perkembangan menuju skala UMKM
    menengah adalah Hod Farm. Namun demikian, besarnya potensi tersebut belum
    sepenuhnya diiringi oleh penerapan manajemen sistem agribisnis yang
    komprehensif dan terintegrasi. 

    Dalam kerangka konseptual agribisnis, peternakan
    tidak dapat dipahami secara sempit sebagai aktivitas pemeliharaan ternak
    semata. Peternakan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem hulu
    (input produksi), subsistem budidaya, subsistem hilir (pengolahan dan
    pemasaran), serta subsistem penunjang berupa kelembagaan, pembiayaan, dan
    kebijakan. 

    Kelemahan pada salah satu subsistem akan berdampak langsung pada
    kinerja usaha secara keseluruhan. Realitas yang terjadi di Desa Tambaksari
    menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha, termasuk Hod Farm, masih
    menempatkan aspek produksi sebagai fokus utama, sementara aspek manajerial dan
    integrasi sistem belum menjadi prioritas.

    Pada subsistem hulu, persoalan
    krusial yang dihadapi adalah manajemen pakan. Terkait persoalan pakan, pemilik
    Hod Farm menjelaskan bahwa ketersediaan hijauan sangat bergantung pada musim,
    sehingga berdampak langsung pada biaya dan produktivitas ternak.

    “Kalau musim kemarau, pakan jadi
    masalah besar. Kadang harus beli tambahan dan itu menambah biaya. Kami tahu
    seharusnya ada pakan cadangan, tapi belum terbiasa mengelolanya secara
    terencana,” jelasnya.

    Pakan masih didominasi hijauan
    segar dan limbah pertanian yang ketersediaannya sangat dipengaruhi musim. Pola
    ini menyebabkan biaya pakan sulit dikendalikan dan produktivitas ternak menjadi
    tidak konsisten. Dalam pandangan penulis, kondisi tersebut mencerminkan
    lemahnya perencanaan usaha jangka menengah dan panjang. Hod Farm seharusnya
    mulai mengadopsi pendekatan manajemen pakan berbasis efisiensi, seperti
    penyusunan ransum sederhana, pengawetan pakan melalui silase atau fermentasi,
    serta diversifikasi sumber pakan lokal. Tanpa pembenahan pada aspek ini, upaya
    peningkatan skala usaha hanya akan meningkatkan risiko kerugian.

    Pada subsistem budidaya, tantangan
    berikutnya terletak pada manajemen kesehatan dan reproduksi ternak. Pemilik Hod
    Farm mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi bukan semata pada teknis
    pemeliharaan ternak, melainkan pada aspek manajemen usaha secara keseluruhan.

    “Selama ini kami beternak sambil
    jalan. Fokusnya masih ke bagaimana ternak tetap hidup dan bisa dijual. Soal
    pencatatan biaya, perencanaan pakan, sampai pemasaran, jujur masih belum
    tertata dengan baik,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut menegaskan
    bahwa praktik peternakan rakyat masih didominasi oleh pendekatan produksi
    tradisional. Hal ini selaras dengan kondisi banyak UMKM peternakan di pedesaan
    yang belum menjadikan manajemen sebagai fondasi utama usaha.Praktik
    pemeliharaan masih cenderung reaktif, yakni penanganan kesehatan dilakukan
    setelah ternak menunjukkan gejala sakit. Pola ini berpotensi meningkatkan
    tingkat kematian ternak dan menurunkan performa produksi. 

    Selain itu,
    pencatatan usaha, baik terkait bobot badan, siklus reproduksi, maupun biaya
    produksi, masih belum dilakukan secara sistematis. Padahal, pencatatan
    merupakan instrumen dasar dalam pengambilan keputusan usaha. Menurut saya, transformasi
    UMKM peternakan menuju usaha yang berdaya saing menuntut perubahan paradigma
    dari sekadar beternak menjadi mengelola usaha peternakan secara profesional.

    Aspek lain yang tidak kalah penting
    adalah subsistem hilir, khususnya pemasaran. Dari sisi pemasaran,
    ketergantungan pada pedagang perantara masih menjadi pilihan utama karena
    dianggap paling praktis, meskipun berdampak pada lemahnya posisi tawar
    peternak.

    “Menjual ke pengepul itu cepat,
    tapi harganya kadang tidak sesuai harapan. Kami sebenarnya ingin punya pasar
    sendiri, misalnya langsung ke konsumen aqiqah atau kurban, tapi belum punya
    jaringan dan sistemnya,” tambahnya.

    Hingga saat ini, pemasaran kambing
    dan domba di Desa Tambaksari masih didominasi oleh pola individual dan
    ketergantungan pada pedagang perantara. Kondisi ini melemahkan posisi tawar
    peternak dan membuat harga jual cenderung tidak stabil. Hod Farm sebenarnya
    memiliki peluang untuk keluar dari pola tersebut dengan membangun strategi
    pemasaran berbasis jaringan, baik melalui kemitraan dengan pelaku usaha jasa
    aqiqah dan kurban, maupun melalui pemanfaatan media digital. Namun, upaya
    tersebut membutuhkan kapasitas manajerial dan dukungan kelembagaan yang belum
    sepenuhnya tersedia. Lebih jauh, pengembangan nilai tambah produk masih menjadi
    aspek yang relatif terabaikan. 

    Kotoran ternak yang dihasilkan dalam jumlah
    besar belum dikelola secara optimal sebagai produk ekonomi. Padahal, pengolahan
    limbah ternak menjadi pupuk organik dapat menciptakan sumber pendapatan
    tambahan sekaligus mendukung pertanian di sekitar wilayah peternakan. Integrasi
    peternakan kambing dan domba dengan sektor pertanian tanaman pangan merupakan
    bentuk konkret penerapan sistem agribisnis berkelanjutan yang masih jarang
    diterapkan di tingkat UMKM pedesaan.



    Menurut saya, keterbatasan
    penerapan manajemen sistem agribisnis pada usaha seperti Hod Farm tidak
    sepenuhnya disebabkan oleh rendahnya kemampuan peternak, melainkan oleh
    minimnya pendampingan yang bersifat berkelanjutan. Program pemberdayaan yang
    ada sering kali bersifat parsial dan berorientasi pada bantuan fisik, bukan
    pada penguatan kapasitas manajerial. Akibatnya, peternak sulit melakukan
    transformasi usaha secara mandiri. Pemerintah desa dan pemerintah daerah
    seharusnya berperan lebih aktif dalam mendorong penguatan kelembagaan peternak,
    baik melalui pembentukan koperasi, kelompok usaha bersama, maupun fasilitasi
    akses pembiayaan produktif. 

    Dalam konteks pembangunan pedesaan, Hod Farm dapat
    diposisikan sebagai UMKM peternakan menengah yang berpotensi direplikasi.
    Namun, tanpa perbaikan menyeluruh pada manajemen sistem agribisnis, potensi
    tersebut akan stagnan dan sulit berkembang. Transformasi peternakan rakyat
    menuntut perubahan cara pandang, dari usaha berbasis kebiasaan menuju usaha
    berbasis perencanaan, efisiensi, dan orientasi pasar.

    Pada akhirnya, penguatan manajemen
    sistem agribisnis peternakan kambing dan domba di Desa Tambaksari bukan hanya
    persoalan teknis peternakan, melainkan persoalan strategi pembangunan ekonomi
    desa. Jika Hod Farm dan UMKM sejenis mampu mengintegrasikan seluruh subsistem
    agribisnis secara konsisten, maka peternakan tidak hanya menjadi sumber
    pendapatan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal, pencipta lapangan
    kerja, dan penopang ketahanan pangan berbasis sumber daya desa. Tantangan yang
    ada justru menjadi peluang untuk membangun peternakan rakyat yang lebih modern,
    mandiri, dan berkelanjutan. 

    Berita Terkait

    Mahasiswa/i STIKOM PROSIA Gelar Pameran Budaya Pesisir Utara Jawa, Kenalkan Warisan Tradisi Lokal

    IDNEWSUPDATE.COM – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Profesi Indonesia...

    Kemenbud Luncurkan Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia Tahun 2026

    IDNEWSUPDATE.COM – Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia...

    Digitalisasi Wastra Minangkabau: Yuli Yanti Sulap Tradisi Kain Pangkek Duo Jadi Mahakarya Fashion 3D di ISI Padang Panjang

    IDNEWSUPDATE.COM –  Sebuah terobosan bersejarah yang memadukan kekayaan tradisi dan teknologi masa...

    Quiet Quitting: Ketika Karyawan Hadir, tetapi Tidak Lagi Terlibat

    Oleh: Angela Amadea Sekar Putri, S.Psi.  Universitas Katolik Soegijapranata Semarang   Setiap...