IDNEWSUPDATE.COM – Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan. Peningkatan angka tersebut dipengaruhi oleh dinamika sektor publik di tengah berlanjutnya kontraksi pada sektor swasta.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan ULN pemerintah tercatat melambat menjadi 3,7 persen secara tahunan dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen pada periode yang sama.
Pemerintah mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri untuk membiayai sektor-sektor produktif, termasuk jasa kesehatan, pendidikan, konstruksi, serta transportasi. Pengelolaan instrumen ini dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas dan kehati-hatian demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Bank Indonesia memastikan bahwa struktur ULN Indonesia secara keseluruhan tetap sehat dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 29,6 persen. Adapun dominasi utang jangka panjang mencapai 84,5 persen dari total keseluruhan ULN nasional.
Analisis Kondisi Utang Nasional
Terkait kondisi tersebut, Ramdan Denny Prakoso memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan ULN pemerintah yang tumbuh lebih rendah pada Senin, 15 Juni 2026. Data menunjukkan bahwa mayoritas utang pemerintah dialokasikan untuk sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan porsi mencapai 22,0 persen. Di sisi lain, sektor swasta yang paling banyak berkontribusi pada ULN adalah Industri Pengolahan serta Jasa Keuangan dan Asuransi.
Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang guna menjaga stabilitas makroekonomi di tengah kondisi pasar global. Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia juga dinilai tetap terjaga, tercermin dari arus modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencatatkan net inflow.













