Sabtu , 5 September 2026
Home Pendidikan Tim Peneliti UPNVJT dan UGM Petakan Valuasi Ekonomi Mangrove Gresik Lewat Kajian Lapangan
Pendidikan

Tim Peneliti UPNVJT dan UGM Petakan Valuasi Ekonomi Mangrove Gresik Lewat Kajian Lapangan

32
Tim Peneliti UGM
Tim Penelitian Kolaborasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi riset berjudul “Valuasi Ekonomi Komparatif Konversi versus Konservasi Mangrove untuk Kebijakan Pesisir Berkelanjutan di Indonesia”.

IDNEWSUPDATE.COM – Berada di kawasan pesisir utara Jawa Timur dengan dinamika aktivitas perikanan budidaya yang sangat intensif, Kabupaten Gresik kini menjadi wilayah krusial dalam keberlanjutan ekosistem pesisir nasional. Dalam upaya menyusun arah kebijakan berbasis bukti empiris (evidence-based policy), Tim Penelitian Kolaborasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi riset berjudul “Valuasi Ekonomi Komparatif Konversi versus Konservasi Mangrove untuk Kebijakan Pesisir Berkelanjutan di Indonesia”.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan pesisir Gresik ini dihadiri oleh jajaran akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPNVJT, tim perwakilan UGM, perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, perangkat desa, mitra LSM pendamping pesisir (PUPUK), serta anggota kelompok pembudidaya tambak dan nelayan lokal.

Ketua Pengusul Penelitian, Putra Perdana, SE., M.Sc., menjelaskan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh tingginya laju konversi hutan mangrove menjadi tambak perikanan intensif yang berisiko menurunkan daya dukung lingkungan jangka panjang.

“Selama ini, konversi mangrove menjadi tambak sering dianggap sebagai pilihan rasional karena memberikan pendapatan tunai langsung bagi warga. Padahal jika dihitung dari seluruh jasa ekosistem seperti perlindungan dari abrasi pesisir, perbaikan kualitas air, pendukung perikanan tangkap, hingga potensi karbon biru (blue carbon) nilai ekonomi konservasi jangka panjang jauh melampaui hasil konversi parsial. Berdasarkan data pemodelan ekonometrika, alokasi lahan tambak yang mengabaikan ekosistem mangrove justru memicu biaya pemulihan abrasi yang melimpah di kemudian hari,” papar  Putra Perdana.

Ia menambahkan bahwa riset ini menggunakan pendekatan metodologi kombinasi Cost-Benefit Analysis (CBA) dan evaluasi nilai bersih sekarang (NPV) dalam horizon perencanaan 20 tahun. Pendekatan ini bertujuan memberikan landasan kuantitatif yang tidak terbantahkan kepada pengambil kebijakan agar tidak mengorbankan fungsi ekologis demi keuntungan jangka pendek.

Dari perspektif ekonomi makro, Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., menekankan bahwa perlindungan ekosistem tidak boleh mematikan mata pencaharian masyarakat pesisir.  “Masyarakat dan petani tambak membutuhkan kepastian serta insentif yang konkret. Kita tidak bisa melarang pembudidaya begitu saja tanpa memberikan solusi skema ekonomi yang adil. Penguatan tambak tradisional yang terintegrasi dengan mangrove (sistem silvofishery) serta akses terhadap insentif kompensasi lingkungan atau kredit karbon (carbon credit) harus menjadi instrumen penyeimbang utama agar konservasi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga Pasuruan,” kata Ary.

Sementara itu, Eko Hardianto, S.Pi., M.Si., M.Sc., Ph.D., dari akademisi dan perwakilan tim peneliti menggarisbawahi tantangan edukasi dan pengawasan di lapangan terkait integrasi mangrove dan potensi karbon.

“Salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah belum sampainya edukasi mengenai nilai strategis simpanan karbon mangrove kepada masyarakat tingkat tapak. Di Gresik, abrasi dan intrusi air laut sudah menjadi ancaman nyata bagi tambak warga. Pemerintah daerah bersama akademisi perlu mendorong skema intervensi yang tidak hanya berhenti pada pembagian bibit mangrove secara rutin, melainkan pembentukan kelompok pengawas dan perawatan bibit agar angka kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove dapat terjaga,” papar Eko.

Melalui FGD ini tim peneliti berhasil mengumpulkan data primer kuantitatif mengenai struktur biaya produksi tambak, tingkat kerugian akibat bencana abrasi, serta harapan masyarakat pesisir Pasuruan. Hasil akhir riset ini akan dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi serta dirumuskan menjadi Policy Brief resmi yang diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Pemerintah Kabupaten Pasuruan guna mendukung pencapaian SDGs Target 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan Target 14 (Ekosistem Lautan).

Penulis :  Putra Perdana, SE., M.Sc., Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., Eko Hardianto, S.Pi., M.Si., M.Sc., Ph.D., Abidatuz Zakiyah, dan Anggraeni Dwi Suryani (Tim Peneliti UPN “Veteran” Jawa Timur dan Universitas Gadjah Mada)

Berita Terkait

Kalahkan 1.300 Peserta dari 9 Negara, Rajendra Pangarep Raih Prestasi Ganda di Malaysia

IDNEWSUPDATE.COM –  Prestasi membanggakan kembali diukir oleh talenta muda Indonesia di panggung...

Angkat Tradisi Jimpitan, Universitas Terbuka Perkuat Tata Kelola Kelurahan Batu Jaya Lewat Ruang Bersama Indonesia

IDNEWSUPDATE.COM –  Semangat gotong royong yang selama ini hidup dalam tradisi jimpitan...

Dari Limbah Organik Jadi Produk Bernilai, PPK Ormawa Kembangkan Eco Enzyme sebagai Sabun Cuci Tangan

IDNEWSUPDATE.COM – Sebagai bagian dari rangkaian Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK...

Panduan Lengkap Cara Cek Status Penerima PIP 2026 Melalui Laman SIPINTAR

IDNEWSUPDATE.COM – Peserta didik serta orang tua saat ini dapat melakukan pengecekan...