IDNEWSUPDATE.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu pagi, 28 Oktober 2026. Kondisi pasar keuangan domestik serta tingginya permintaan valuta asing dari masyarakat menjadi faktor utama yang memicu tertekannya mata uang Indonesia ke level Rp18.174 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan terkini, rupiah tercatat melemah 18 poin atau sebesar 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di posisi Rp18.156 per dolar AS. Tekanan ini semakin nyata setelah pada sesi perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, rupiah juga mengalami depresiasi sebesar 21 poin.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan ini tidak terlepas dari sentimen negatif yang menyelimuti pasar saham serta obligasi nasional. Selain itu, fenomena konversi simpanan masyarakat dari mata uang rupiah ke valuta asing di sektor perbankan turut memperparah kondisi likuiditas.
“Rupiah hari ini melemah, dipengaruhi oleh tekanan di pasar saham dan obligasi, dan peningkatan konversi simpanan ke valas di perbankan,” ujar Rully saat memberikan keterangan di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Sentimen Pasar Valuta Asing
Rully menambahkan bahwa peningkatan simpanan valas yang mencapai angka 20 persen mencerminkan tingginya preferensi masyarakat untuk menyimpan dolar AS. Langkah ini diambil sebagai strategi antisipasi terhadap potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih akan berlanjut, sehingga menimbulkan risiko kelangkaan likuiditas dolar di pasar domestik.
Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang nasional juga datang dari pasar obligasi melalui fenomena inversi kurva imbal hasil. Pada pasar ini, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tenor 8 hingga 9 tahun.
Meski demikian, beberapa faktor eksternal dinilai memiliki potensi untuk menahan laju pelemahan rupiah lebih dalam. Hal tersebut meliputi tren penurunan harga minyak dunia, melandainya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang mulai mereda. Saat ini, pelaku pasar masih menantikan arah kebijakan moneter lanjutan dari otoritas terkait guna menentukan langkah investasi ke depan.
