Oleh : Eunike Lisi Cintani Putri, S.Psi.
Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University
Ketika mendengar kata kekerasan, banyak orang masih membayangkan pelakunya adalah suami atau anggota keluarga. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kekerasan juga banyak terjadi dalam hubungan pacaran, bahkan korbannya didominasi oleh perempuan muda yang seharusnya sedang menikmati masa pencarian jati diri dan membangun masa depan.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2024 mencatat lebih dari 28 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Di antara berbagai bentuk kekerasan tersebut, kekerasan dalam pacaran masih menjadi persoalan yang memprihatinkan. Sekitar 80 persen korbannya adalah perempuan berusia 13–24 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa hubungan romantis tidak selalu menjadi ruang yang aman bagi perempuan.
Kekerasan dalam pacaran bukan hanya soal memar atau luka fisik. Bentuknya bisa berupa penghinaan, manipulasi, ancaman, kontrol berlebihan, hingga kekerasan psikologis yang perlahan mengikis harga diri korban. Dampaknya pun tidak berhenti ketika hubungan berakhir.
Banyak penyintas mengalami kecemasan, depresi, trauma, kehilangan rasa percaya diri, bahkan kesulitan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari. Namun, di balik pengalaman yang menyakitkan itu, ada kisah lain yang jarang mendapat perhatian. Tidak semua penyintas selamanya terjebak dalam luka. Sebagian mampu bangkit dan menemukan makna baru dalam hidupnya.
Dalam wawancara yang saya lakukan terhadap dua perempuan penyintas kekerasan dalam pacaran, keduanya menunjukkan perjalanan pemulihan yang berbeda, tetapi sama-sama mengarah pada pertumbuhan diri. Seorang perempuan berusia 24 tahun yang selama dua tahun mengalami kekerasan verbal dan psikologis mengaku sempat hidup dalam ketakutan setelah hubungan tersebut berakhir. Kini, ia menjadi lebih percaya pada kemampuannya sendiri dan lebih berhati-hati memilih pasangan.
Sementara itu, perempuan berusia 27 tahun yang bertahan selama tiga tahun dalam hubungan penuh kekerasan fisik hingga mengalami cedera justru menemukan tujuan hidup baru. Ia lebih menghargai hal-hal sederhana, memiliki semangat melanjutkan pendidikan, dan terdorong untuk membantu perempuan lain agar berani keluar dari hubungan yang tidak sehat. Keduanya juga merasakan perubahan dalam sisi spiritual, meskipun dengan cara dan intensitas yang berbeda.
Dalam psikologi, perubahan positif setelah menghadapi peristiwa traumatis dikenal sebagai post-traumatic growth. Konsep yang dikembangkan Tedeschi dan Calhoun menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami pertumbuhan setelah trauma melalui meningkatnya penghargaan terhadap hidup, hubungan yang lebih bermakna dengan orang lain, keyakinan terhadap kekuatan diri, terbukanya peluang baru, serta perkembangan spiritual.
Yang perlu dipahami, post-traumatic growth bukan berarti trauma itu baik atau kekerasan perlu dialami agar seseorang menjadi lebih kuat. Tidak ada pengalaman kekerasan yang layak dirayakan.
Pertumbuhan ini justru lahir dari perjuangan panjang penyintas dalam memulihkan dirinya. Prosesnya tidak instan, tidak mudah, bahkan sering kali tidak berjalan lurus. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan sosial, penerimaan diri, serta kesempatan untuk memaknai kembali pengalaman hidup menjadi faktor penting yang membantu penyintas bertumbuh. Sayangnya, masyarakat masih lebih sering bertanya,
“Mengapa dia bertahan?” daripada, “Apa yang bisa kita lakukan agar dia merasa aman?” Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap penyintas kekerasan dalam pacaran. Mereka bukan sekadar korban yang harus dikasihani, melainkan individu yang memiliki kapasitas untuk pulih, bangkit, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna ketik memperoleh dukungan yang tepat.
Setiap penyintas memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk kembali mempercayai dirinya sendiri. Karena itu, yang mereka butuhkan bukan penghakiman, melainkan ruang yang aman untuk didengar, dipercaya, dan didampingi. Pada akhirnya, luka memang dapat meninggalkan bekas. Namun, bekas luka tidak selalu menandakan akhir dari sebuah kehidupan. Bagi sebagian perempuan, bekas itu justru menjadi titik awal untuk mengenal dirinya lebih dalam, menemukan makna baru, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.













