IDNEWSUPDATE.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UPN “Veteran” Jawa Timur mengunjungi Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, untuk mengidentifikasi kebutuhan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengelola Kopi Sri Gading. Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memastikan program pemberdayaan yang disiapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Desa Ampelgading merupakan salah satu penghasil kopi robusta di kawasan Tirtoyudo. Selama ini, sebagian petani masih menjual kopi dalam bentuk green bean kepada pembeli besar seperti PT Asal Jaya. Kondisi tersebut membuat nilai tambah yang diterima petani masih terbatas karena kopi belum melalui proses pengolahan lanjutan. Dari sisi pemasaran, branding, kemasan, dan akses ke pasar ritel juga masih perlu dikembangkan.
Sebelumnya, tim PKM merancang program hilirisasi melalui penyediaan mesin roasting kopi berkapasitas 25 kilogram dengan kontrol suhu digital. Namun, mesin tersebut masih dalam tahap perencanaan dan belum diserahkan maupun dipasang di lokasi.

Pada kunjungan pertama, tim justru menemukan kebutuhan lain yang dinilai mendesak, yaitu mesin sortasi. Selama ini, sortasi biji kopi masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu dan hasilnya belum konsisten. Kebutuhan tersebut kemudian menjadi perhatian utama dalam penyusunan program berikutnya.
“Kami sangat terbantu dengan dukungan dari KWT Srigading. Selama proses penjajakan, teman-teman KWT cukup terbuka dan banyak membantu, mulai dari menyediakan tempat untuk berdiskusi dan berkumpul sampai memberikan informasi tentang kondisi petani di lapangan. Jadi, kami bisa lebih memahami kebutuhan mereka dan tidak hanya berangkat dari asumsi,” ujar Anisa Fitria Utami, S.E., M.E., selaku ketua tim PKM UPN Veteran Jawa Timur.
Selain produksi, anggota KWT juga menyampaikan kebutuhan dari sisi pemasaran. Mereka mengusulkan kemasan sachet 45 gram agar Kopi Sri Gading lebih terjangkau dan mudah dicoba oleh konsumen, terutama segmen pasar menengah ke bawah.

Pada kunjungan kedua, tim melanjutkan penjajakan teknologi bersama kelompok mitra. Hasil diskusi kembali menunjukkan bahwa mesin sortasi menjadi salah satu kebutuhan prioritas. Teknologi yang dijajaki tidak hanya memisahkan biji berdasarkan ukuran seperti mesin sortasi konvensional, tetapi menggunakan sensor kamera untuk mendeteksi kondisi visual biji dan membedakan biji berkualitas baik dengan biji defect.
“Dari diskusi dengan petani, ternyata yang paling dibutuhkan saat ini justru mesin sortasi. Kami kemudian mencoba melihat teknologi yang paling sesuai. Jadi, bukan hanya memisahkan biji kopi berdasarkan ukuran seperti mesin sortasi pada umumnya, tetapi menggunakan kamera untuk melihat kondisi bijinya. Nantinya biji yang bagus bisa dibedakan dari biji yang defect, sehingga petani bisa lebih mudah menentukan grade kopinya,” ungkap Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., pada 20 Juli 2026.
Melalui sortasi, pengolahan, dan kemasan yang lebih baik, program ini diharapkan mampu mendorong hilirisasi Kopi Sri Gading sehingga tidak berhenti sebagai produk mentah. Upaya tersebut sejalan dengan SDGs 1 atau No Poverty karena peningkatan nilai tambah produk berpeluang mendukung peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, program masih berada pada tahap awal identifikasi dan penjajakan.
Hasil kunjungan pertama dan kedua menjadi dasar bagi tim PKM untuk menyesuaikan teknologi serta pendampingan dengan kebutuhan nyata petani dan KWT, sekaligus memperkuat peran UPN Veteran Jawa Timur dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Penulis : Anisa Fitria Utami, S.E., M.E., Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., Dwiyana Anela Kurniasari, S.P., M.Si, Indah Dwi Andita, Bunayya Fathia Sabil
