IDNEWSUPDATE.COM – Para pelaku kejahatan siber kini semakin aktif menyasar pengguna media sosial melalui modus penyamaran sebagai layanan pelanggan atau customer service resmi untuk mencuri data pribadi dan aset finansial. Aksi ini biasanya menargetkan pengguna yang sedang menyampaikan keluhan di platform digital, di mana pelaku menawarkan bantuan palsu dengan menggunakan identitas akun yang menyerupai perusahaan asli.
Pelaku kejahatan siber akan menggunakan foto profil hingga nama akun yang mirip dengan entitas resmi guna menipu korban agar merasa sedang berkomunikasi dengan pihak yang tepat. Setelah merespons keluhan tersebut, pelaku akan mengarahkan korban untuk beralih ke saluran komunikasi di luar platform resmi, seperti aplikasi pesan singkat melalui nomor telepon pribadi.
Dalam proses selanjutnya, korban akan diminta memberikan data sensitif atau melakukan transfer uang dengan dalih biaya verifikasi maupun penyelesaian masalah teknis akun. Informasi yang berhasil didapatkan oleh oknum tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun, mengakses saldo digital, hingga melakukan transaksi tanpa izin pemilik sah.
Modus penipuan ini sering kali menyasar merek-merek besar yang memiliki tingkat interaksi tinggi dengan pelanggan di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap akun yang mengatasnamakan layanan pelanggan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu di kanal komunikasi resmi perusahaan.
Tips Menghindari Penipuan Digital
Untuk melindungi diri dari ancaman tersebut, pengguna media sosial disarankan untuk selalu memperhatikan beberapa langkah pencegahan berikut:
- Selalu periksa status verifikasi akun layanan pelanggan sebelum memberikan respons atau data apa pun.
- Hindari memberikan informasi sensitif seperti kode OTP, PIN, kata sandi, maupun data keuangan pribadi kepada pihak yang tidak dapat dipastikan keabsahannya.
- Lakukan konfirmasi ulang melalui aplikasi resmi atau situs web resmi perusahaan jika diarahkan oleh akun media sosial yang mencurigakan.
- Tetap tenang dan jangan terburu-buru mengikuti instruksi yang diberikan oleh akun pihak ketiga saat menerima balasan di ruang publik media sosial.
Peningkatan literasi digital serta kewaspadaan terhadap teknik rekayasa sosial menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko menjadi korban penipuan yang memanfaatkan interaksi pelanggan di dunia maya. Masyarakat perlu meningkatkan kehati-hatian dalam setiap interaksi digital demi menjaga keamanan data pribadi, sebagaimana diinformasikan pada Kamis, 25 Juni 2026.













