Sabtu , 5 September 2026
Home Sehat Mantan Perokok Tetap Harus Jalani Skrining Paru hingga 15 Tahun Setelah Berhenti
Sehat

Mantan Perokok Tetap Harus Jalani Skrining Paru hingga 15 Tahun Setelah Berhenti

19

IDNEWSUPDATE.COM – Dokter spesialis paru dari Columbia Asia Hospital Pulomas, dr. Hana Khairina Putri Faisal, menekankan bahwa mantan perokok aktif masih memiliki risiko kesehatan sehingga wajib melakukan pemeriksaan skrining paru hingga 15 tahun setelah benar-benar berhenti merokok. Langkah preventif ini sangat penting untuk mendeteksi dini potensi kanker paru yang seringkali tidak menunjukkan gejala nyata pada stadium awal.

Skrining rutin menggunakan teknologi Low Dose CT Scan (LDCT) disarankan bagi individu berusia 50 hingga 80 tahun dengan kriteria tertentu. Kelompok yang termasuk dalam kategori berisiko adalah mereka yang memiliki riwayat merokok minimal 20 pack-year, masih aktif merokok, atau telah berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Satu pack-year sendiri didefinisikan sebagai kebiasaan menghisap satu bungkus rokok setiap hari selama jangka waktu satu tahun. Deteksi dini melalui prosedur LDCT dianggap efektif karena mampu menampilkan gambaran paru secara mendetail untuk menemukan nodul atau kelainan lainnya dengan paparan radiasi yang jauh lebih rendah dibandingkan CT Scan konvensional.

Menurut dr. Hana, keputusan untuk melakukan skrining harus didiskusikan secara mendalam dengan dokter dengan mempertimbangkan usia, riwayat kesehatan, serta faktor risiko lainnya. “Kanker paru pada stadium awal sering kali tidak menunjukkan gejala, namun melalui Low Dose CT Scan, kelainan dapat terdeteksi lebih dini sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar,” ujarnya saat memberikan keterangan pers pada Jumat (28/8/2026).

Pentingnya Deteksi Dini Kanker

Selain rutin menjalani skrining sesuai rekomendasi medis, upaya preventif lainnya seperti menghindari paparan asap rokok orang lain, menjauhi polusi udara, serta menjaga lingkungan kerja yang sehat sangat dianjurkan. Masyarakat diingatkan untuk tidak menunggu munculnya gejala berat sebelum memeriksakan kondisi paru-paru ke fasilitas kesehatan.

“Jangan menunggu gejala berat untuk mulai memperhatikan kesehatan paru, namun pemeriksaan juga tidak perlu dilakukan tanpa penilaian medis karena konsultasi membantu menentukan apakah seseorang benar-benar memerlukan skrining dan pemeriksaan apa yang paling tepat,” tegas dr. Hana.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker secara global. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya deteksi dini bagi kelompok berisiko tinggi menjadi kunci utama dalam menekan angka fatalitas akibat penyakit ini di masa depan.

Berita Terkait

Konsumsi Kopi Berlebih Berisiko Turunkan Kepadatan Tulang

IDNEWSUPDATE.COM – Sebuah studi terbaru dari Flinders University mengungkapkan bahwa konsumsi kopi...

Alasan Ilmiah Mengapa Berjalan Menjadi Lebih Sulit Saat Usia Lanjut

IDNEWSUPDATE.COM – Penelitian terbaru dari Flinders University dan University of Canberra Australia...

Vitamin C Dosis Tinggi Berpotensi Jadi Terapi Anti Kanker

IDNEWSUPDATE.COM – Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pemberian vitamin C dosis tinggi melalui...

Waspadai Dampak Buruk Duduk Terlalu Lama bagi Kesehatan Tubuh

IDNEWSUPDATE.COM – Kebiasaan duduk dalam durasi panjang saat bekerja atau beraktivitas sehari-hari...