IDNEWSUPDATE.COM – Program Lingkungan PBB (UNEP) melaporkan bahwa suhu bumi diprediksi akan melampaui batas ambang 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terkait potensi peningkatan bencana alam serta ancaman kesehatan global bagi penduduk dunia.
Laporan tersebut menekankan pentingnya menjaga kenaikan suhu tetap di angka 1,5 derajat Celsius untuk menekan dampak buruk perubahan iklim yang semakin nyata. Meski telah berjalan satu dekade sejak Perjanjian Paris disepakati, tren kenaikan suhu global saat ini masih menunjukkan sinyal yang mengkhawatirkan bagi kelestarian lingkungan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan banjir besar merupakan peringatan keras bagi umat manusia. Dunia perlu menunjukkan keberanian lebih untuk melampaui batas ambisi yang ada saat ini, ujar Antonio Guterres seperti dikutip pada Rabu (2/9/2026).
Tanpa perubahan kebijakan yang drastis, proyeksi pemanasan global diperkirakan mencapai 2,6 derajat Celsius pada tahun 2100. Bahkan dalam skenario terbaik dengan target emisi nol bersih, kenaikan suhu masih berpotensi menyentuh angka 1,8 derajat Celsius.
Risiko Dampak Cuaca Ekstrem
Kenaikan suhu yang berkelanjutan akan memperparah frekuensi cuaca ekstrem, hilangnya ekosistem, hingga ancaman tenggelamnya negara kepulauan. Dampak ini secara langsung mengganggu ketahanan pangan, pasokan air bersih, serta stabilitas infrastruktur global.
Profesor Richard Betts dari University of Exeter menambahkan bahwa kenaikan suhu secara langsung berkontribusi pada intensitas bencana alam seperti banjir bandang. Menurut Betts, kita dapat mencegah kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan seperti yang terjadi pada Agustus 2026.
Sebagai langkah mitigasi, laporan PBB tersebut menekankan perlunya strategi komprehensif dalam pengurangan karbon dioksida. Langkah ini harus menjadi prioritas utama guna menghindari kerugian lebih besar terhadap massa gletser dunia yang terancam hilang hingga seperempat bagian pada akhir abad ini.
