Jumat , 30 Oktober 2026
Home Kolom Menghentikan Rantai Trauma: Dampak Pengabaian Anak pada Kesehatan Mental
Kolom

Menghentikan Rantai Trauma: Dampak Pengabaian Anak pada Kesehatan Mental

22
Ilustrasi

IDNEWSUPDATE.COM – Isu kesehatan mental di kalangan remaja dan anak muda Indonesia belakangan ini makin sering dibicarakan. Data Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia atau sekitar 15,5 juta jiwa mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.

Saat fenomena ini muncul, masyarakat sering kali buru-buru menyalahkan media sosial, perundungan di sekolah, atau tekanan belajar. Padahal, jika kita mau melihat lebih dekat, akar masalahnya sering kali bermula dari rumah sendiri, yaitu dari bentuk kekerasan yang jarang kita sadari: pengabaian anak (child neglect).

Selama ini, saat mendengar kata “kekerasan pada anak”, kita langsung terbayang pemukulan, bentakan kasar, atau kekerasan fisik lainnya. Hal itu wajar karena lukanya terlihat nyata. Namun, ada satu bentuk kekerasan lain yang terjadi secara diam-diam tanpa meninggalkan luka di kulit, tetapi merusak jiwa anak hingga ia dewasa. Bentuk kekerasan itu adalah pengabaian emosional (emotional neglect).
Pengabaian emosional terjadi ketika orang tua hadir secara fisik di rumah, menyediakan makanan dan pakaian, tetapi sama sekali tidak  memberikan perhatian, kasih sayang, atau kepedulian terhadap perasaan anak.

Luka yang Tak Terlihat dan Teori Psikologinya

Mengapa pengabaian di masa kecil begitu merusak kesehatan mental seseorang? Jawabannya bisa dijelaskan secara ilmiah melalui Teori Kelekatan (Attachment Theory) dari seorang ahli psikologi bernama John Bowlby. Menurut Bowlby, ikatan emosional pertama antara anak dan orang tuanya menjadi penentu utama bagaimana anak tersebut memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya saat dewasa nanti.
Setiap anak tumbuh dengan kebutuhan dasar untuk merasa aman, didengar, dan dicintai. Ketika seorang anak yang sedang merasa takut, sedih, atau cemas selalu diabaikan, dianggap “berlebihan”, atau bahkan dimarahi saat menangis, anak gagal mendapatkan rasa aman tersebut. Anak akhirnya mengembangkan pertahanan diri yang tidak sehat. Dalam pikirannya, anak mengambil kesimpulan yang menyedihkan: “Aku tidak berharga, perasaanku hanya menjadi beban bagi orang lain, dan tidak ada orang yang benar-benar bisa kupercaya.”
Dampak buruk dari pola pengasuhan ini dibuktikan oleh penelitian kesehatan berskala besar yang dikenal sebagai Studi ACEs (Adverse Childhood Experiences). Penelitian ini membuktikan bahwa anak yang tumbuh dalam situasi diabaikan memiliki risiko sangat tinggi mengalami masalah kesehatan mental saat dewasa, antara lain:
1. Kesulitan Mengelola Emosi (Disregulasi Emosi)
Anak yang tidak pernah diajarkan cara mengenali dan menyalurkan perasaannya dengan baik akan tumbuh menjadi orang dewasa yang gampang meledak-ledak, atau sebaliknya, memendam semua emosi sampai membuat jiwanya tertekan.
2. Kecemasan Sosial dan Depresi Kronis
Rasa cemas ini muncul karena mereka selalu takut ditolak, merasa tidak aman saat berhubungan dengan orang lain, dan terus-menerus merasa sendirian.
3. Krisis Belum Punya Harga Diri (Low Self-Esteem)
Mereka tumbuh menjadi orang yang sulit mencintai diri sendiri, merasa tidak layak bahagia, dan selalu merasa hampa meskipun telah meraih keberhasilan dalam pendidikan atau pekerjaan.

Bagaimana Trauma Ini Diturunkan Antargenerasi?

Hal yang paling menyedihkan dari pengabaian emosional adalah sifatnya yang bisa menular dari orang tua ke anak. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dinamakan Trauma Antargenerasi (Intergenerational Trauma). Di Indonesia, fenomena ini sering dianggap biasa karena adanya pemikiran bahwa tugas orang tua cukup hanya memberi makan, tempat tinggal, dan membiayai sekolah.
Banyak orang tua membesarkan anak dengan mode sekadar bertahan hidup. Karena sewaktu kecil mereka juga tidak pernah didengarkan atau diberi ruang emosional oleh orang tua mereka dulu, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang dingin dan gagap menunjukkan kasih sayang. Tanpa disadari, pola pengasuhan yang dingin dan acuh tak acuh ini diulang kembali kepada anak-anak mereka. Rantai trauma ini pun terus berputar dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Memutus Rantai Trauma

Siklus buruk ini tidak boleh dibiarkan berlanjut. Memutus rantai pengabaian anak memerlukan kesadaran dari tingkat keluarga hingga dukungan masyarakat dan pemerintah:

• Mengubah Cara Pandang Pengasuhan
Kita perlu menyadari bahwa menjadi orang tua bukan sekadar mencukupi kebutuhan fisik anak. Pengasuhan sejati adalah tentang hadir secara utuh (emotional presence). Anak-anak tidak meminta orang tua yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengar dan memvalidasi perasaan mereka tanpa langsung menghakimi.

• Edukasi Kesehatan Emosional Keluarga
Program-program pembinaan keluarga di masyarakat, seperti Posyandu atau Bina Keluarga Balita (BKB), sebaiknya tidak hanya fokus pada kesehatan fisik dan gizi anak, tetapi juga memberikan edukasi tentang cara mengasuh anak dengan penuh empati dan menjaga kesehatan mental orang tua.

• Layanan Konseling yang Mudah Diakses
Masyarakat perlu didorong untuk tidak takut atau malu berkonsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga. Berkonsultasi ke tenaga profesional bukanlah tanda kelemahan atau “gila”, melainkan langkah berani untuk menyembuhkan luka masa lalu agar tidak diwariskan kepada anak cucu.
Anak-anak yang diabaikan perasaannya hari ini adalah orang-orang dewasa yang terluka di masa depan. Memutus rantai pengabaian dan trauma masa kecil memang tidak mudah, tetapi ini adalah hal terpenting yang harus kita lakukan. Dengan berani menyadari luka masa lalu, belajar mendengarkan anak-anak kita, dan memberikan rasa aman di rumah, kita sedang menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa. Sebab, bangsa yang sehat dan kuat berawal dari anak-anak yang merasa didengar, dihargai, dan dicintai di rumahnya sendiri.
Penulis : Nurhajah Wahyu Tri Utami / Mahasiswa Magister Sains Psikologi – Universitas Katholik Soegijapranata Semarang

Berita Terkait

Mengapa Tuhan Belum Menghukum? Refleksi atas Luka Kemanusiaan

 Oleh : Agnesta Silviana B R Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata...

Quiet Quitting: Ketika Karyawan Hadir, tetapi Tidak Lagi Terlibat

Oleh: Angela Amadea Sekar Putri, S.Psi.  Universitas Katolik Soegijapranata Semarang   Setiap...

Luka Akibat Kekerasan dalam Pacaran Tidak Selalu Menjadi Akhir Cerita

Oleh : Eunike Lisi Cintani Putri, S.Psi. Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata...

Takut Nulis Jurnal? Ini Alasan Kamu Salah Besar

Oleh :  Abdussalam, S.Kom., M.M. Dosen Lektor — STMIK Indonesia Banda Aceh Peneliti...