IDNEWSUPDATE.COM – Penelitian terbaru dari University of Bristol mengungkapkan bahwa olahraga aerobik secara rutin tidak hanya memperkuat otot jantung, tetapi juga mampu mengubah struktur saraf yang mengendalikan fungsi organ tersebut. Temuan ini menyoroti adanya perbedaan mencolok dalam respons saraf antara sisi kiri dan kanan tubuh setelah seseorang melakukan aktivitas fisik secara konsisten.
Para ilmuwan menemukan bahwa saraf yang mengatur detak jantung, pernapasan, dan tekanan darah mengalami perubahan fisik akibat latihan fisik moderat selama sepuluh minggu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Autonomic Neuroscience ini dilakukan menggunakan model hewan, namun memberikan wawasan baru mengenai bagaimana sistem saraf beradaptasi terhadap gaya hidup aktif.
Sistem saraf otonom yang berperan sebagai pusat kendali otomatis jantung diketahui memiliki klaster saraf di area leher dan dada atas yang disebut ganglia stellata. Klaster saraf inilah yang berfungsi mengirimkan sinyal untuk mengatur ritme detak jantung sesuai dengan kebutuhan oksigen tubuh saat beraktivitas atau dalam kondisi stres.
Melalui teknik analisis tiga dimensi yang disebut stereologi, para peneliti mengamati adanya ketidakseimbangan struktural yang signifikan setelah periode latihan aerobik. Ganglia di sisi kanan tubuh didapati memiliki jumlah neuron sekitar empat kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan sisi kiri, sebuah pola yang berbeda dengan subjek yang tidak menjalani latihan.
Dampak Olahraga pada Saraf
Perubahan tersebut tidak hanya terletak pada jumlah neuron, tetapi juga pada dimensi sel saraf itu sendiri. Neuron pada sisi kiri tubuh cenderung meningkat ukurannya hingga dua kali lipat, sementara neuron pada sisi kanan justru mengalami penyusutan ringan.
Menurut Dr. Augusto Coppi selaku pemimpin penelitian, penemuan ini memberikan pemahaman mengenai pola tersembunyi dalam sistem kemudi otomatis tubuh. Dia menyatakan bahwa penemuan ini mengarah pada pola sisi kiri-kanan yang sebelumnya tidak diketahui dalam sistem autopilot tubuh yang membantu menjalankan jantung saat dikonfirmasi pada 26 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Coppi menjelaskan bahwa klaster saraf ini bertindak seperti sakelar peredup jantung dan olahraga rutin telah terbukti mengubah sakelar tersebut secara spesifik pada masing-masing sisi. Hal ini di masa depan diharapkan dapat membantu tim medis untuk menentukan prosedur perawatan, seperti blok saraf atau denervasi, dengan target sisi yang paling tepat dan efektif bagi pasien.
Meskipun temuan ini memberikan perspektif baru, penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk mengonfirmasi apakah mekanisme adaptasi saraf yang serupa terjadi pada sistem kardiovaskular manusia. Langkah berikutnya bagi tim peneliti adalah memetakan bagaimana perubahan struktural ini memengaruhi fungsi jantung secara langsung baik dalam kondisi istirahat maupun saat beraktivitas.
