IDNEWSUPDATE.COM – Tekanan inflasi global diprediksi masih akan berlanjut hingga tahun 2027 akibat kenaikan biaya energi serta meluasnya dampak kenaikan harga ke berbagai sektor ekonomi. Survei Reuters yang melibatkan lebih dari 500 ekonom pada Oktober 2026 menunjukkan peningkatan proyeksi angka inflasi di 31 dari 50 negara yang dipantau.
Lonjakan harga minyak mentah menjadi pemicu utama ketidakpastian ekonomi ini, di mana harga komoditas tersebut sempat menembus level di atas US$117 per barel. Peningkatan drastis ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang terus bereskalasi di kawasan Timur Tengah sejak delapan bulan terakhir.
Kepala ekonom global HSBC, Janet Henry, menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi kini semakin mendalam. Menurutnya, semakin lama situasi di Timur Tengah berkembang dan meningkat eskalasinya, serta semakin tinggi tekanan harga yang meluas, semakin besar kemungkinan dunia menghadapi inflasi yang tidak hanya lebih tinggi, tetapi juga lebih persisten, sebagaimana disampaikannya pada Rabu (28/10/2026).
Kekhawatiran ini tidak hanya terbatas pada negara berkembang, tetapi juga mulai menyerang negara-negara maju yang sebelumnya memiliki stabilitas harga lebih baik. Data menunjukkan adanya revisi kenaikan proyeksi inflasi untuk 15 dari 21 negara maju dalam survei terbaru.
Tantangan Ekonomi Global Mendatang
Di sisi lain, para ahli menyoroti ketangguhan ekonomi yang masih bertahan meskipun dibayangi inflasi. Seth Carpenter, kepala ekonom global Morgan Stanley, menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi masih mampu beradaptasi berkat adanya siklus investasi berbasis kecerdasan buatan (AI) serta aktivitas ekonomi di kawasan tertentu yang lebih kuat dari perkiraan awal.
Meskipun demikian, transisi harga energi ke dalam inflasi inti mulai menunjukkan tanda-tanda yang semakin kompleks. Hal ini menuntut kewaspadaan lebih lanjut terhadap biaya hidup yang diperkirakan akan tetap berada dalam level yang berat bagi masyarakat global dalam beberapa tahun ke depan.
