IDNEWSUPDATE.COM – Tim peneliti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mendorong penguatan pengelolaan habitat monyet ekor panjang di Situs Buyut Banjar, Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, melalui pendekatan edukasi dan partisipasi masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelestarian satwa liar sekaligus menyelaraskan aktivitas wisata dengan perlindungan kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan religi tersebut.
Penguatan model pengelolaan habitat itu dilakukan melalui kegiatan focus group discussion (FGD) pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kegiatan melibatkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, penjaga Situs Buyut Banjar, serta perwakilan masyarakat, termasuk ketua RT/RW setempat.
Ketua tim penelitian, Ade Suryanda, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya membangun keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Sebelum FGD dilaksanakan, tim peneliti melakukan observasi dan pengamatan di kawasan Situs Buyut Banjar selama kurang lebih dua pekan. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi habitat dan aktivitas monyet ekor panjang sebagai dasar penguatan model pengelolaan kawasan.
Tim peneliti UNJ terdiri atas Ade Suryanda, S.Pd., M.Si.; Dr. Eka Putri Azra’i, S.Pd., M.Si.; Dra. Yulilina Retno Dewahrani, M.Biomed.; Dini Safitri, S.Pd., M.Pd.; Mohammad Isnin Noer, S.Si., M.Si.; Dinda Kinanti; Nadiva Tiara Anugraheni Purnama; dan Yasmine Afiani Gumilar, S.Si.
Habitat Satwa di Tengah Aktivitas Wisata
Situs Buyut Banjar memiliki keunikan karena menjadi habitat alami monyet ekor panjang sekaligus destinasi wisata sejarah dan religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kebutuhan ekologis satwa liar.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan monyet di kawasan ini juga berkaitan dengan cerita turun-temurun mengenai 41 prajurit Kerajaan Karang Kendal atau prajurit yang dipimpin Ki Ratim. Menurut kisah yang berkembang, para prajurit tersebut dipercaya mengalami kutukan hingga berubah menjadi monyet pada masa Pangeran Suryanegara, di era Sunan Gunung Jati.
Di luar nilai budaya tersebut, monyet ekor panjang memiliki fungsi ekologis sebagai penyebar biji yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan kawasan semi-alami.
Namun, tingginya aktivitas manusia, kegiatan wisata, serta potensi degradasi habitat dapat meningkatkan tekanan terhadap ruang hidup satwa. Karena itu, pengelolaan kawasan diperlukan agar kepentingan konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan situs oleh masyarakat dan pengunjung.
Hasil riset dan kegiatan pengabdian pada tahun sebelumnya menunjukkan bahwa populasi monyet ekor panjang di Situs Buyut Banjar tergolong rendah dan berada dalam kondisi rentan. Wilayah jelajahnya juga relatif terbatas pada zona inti tertentu.
Analisis spasial menggunakan pendekatan minimum convex polygon (MCP) dan kernel density utilization mengindikasikan bahwa area inti aktivitas monyet hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan kawasan situs.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar perlunya pengelolaan habitat yang lebih terarah, termasuk melalui pengaturan ruang dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa.
Edukasi dan Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci
Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ini, tim UNJ berupaya memperkuat model pengelolaan habitat yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan edukasi, zonasi ruang, dan partisipasi masyarakat.
Penguatan kapasitas kelembagaan lokal, seperti Pokdarwis, Karang Taruna, dan pengelola Situs Buyut Banjar, menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya konservasi, tetapi juga terlibat aktif dalam penerapannya.
Kegiatan sebelumnya telah mendorong peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai konservasi habitat. Meski demikian, upaya tersebut masih perlu diperkuat melalui penerapan di lapangan, pengembangan kelembagaan, serta pengelolaan ruang yang lebih terstruktur agar manfaatnya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Ade menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, khususnya Kuwu beserta jajaran pemerintah desa, Pokdarwis, Karang Taruna, para Ketua RT/RW, serta seluruh peserta FGD yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan dukungan,” ujar Ade yang juga Pembina Kelompok Studi Primata (KSP) Macaca Universitas Negeri Jakarta
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut sehingga upaya pelestarian habitat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat.
“Kami berharap sinergi dan semangat gotong royong ini dapat terus terjaga dan berkelanjutan, sehingga terwujud pengelolaan habitat monyet ekor panjang yang harmonis, edukatif, dan berwawasan lingkungan, sekaligus memberikan manfaat bagi kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat Desa Bulak,” tuturnya.
Melalui kolaborasi antara tim peneliti dan masyarakat, Situs Buyut Banjar diharapkan dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata edukatif yang tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Dengan demikian, pelestarian monyet ekor panjang tidak hanya menjadi tanggung jawab peneliti, tetapi juga gerakan bersama untuk menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang.
